Jalan Sufi Melawan Sekulerisme: Free Will dan Krisis Kebenaran

Sekulerisme lahir dari filsafat Barat, menjauhkan agama dari ruang kehidupan publik

John Austin sampai Auguste Comte mendefinisikan free will itu dengan positivisme. Manusia dianggap berhak membuat hukum sendiri. Tanpa wahyu. Free will diterjemahkan sebagai constitutio—buah dari kehendak rakyat. Sampai dalam urusan perdagangan pun manusia merasa berhak mengatur segalanya. Teori Keynes sampai Adam Smith melegitimasi free will tadi. Maka modernisme pun melahirkan merkantilisme hingga menjadi kapitalisme.

Karena filosof dahriyyun itu meletakkan kebenaran wahyu sebagai hanya urusan ritual belaka. Agama diletakkan hanya untuk ibadah ritual. Urusan kekuasaan, perdagangan, hukum, sosial, sepenuhnya ditentukan oleh manusia.

Eksekusi free will itu berlangsung dalam Revolusi Prancis, 1789. Inilah ajang eliminasi kebenaran Tuhan. Kaum penganut freedom merasa merdeka kala mencampakkan wahyu. Mereka merasa bebas, kala leluasa mematuhi rasio dan empirisme sebagai landasan. Sejak itu, modernisme menggeliat dalam sistem. Manusia tunduk pada system rule, bukan personal rule.

Baca juga: Abah Anom, Rusaknya Masyarakat dan Negara Sebab Penyakit Hati

Ini yang diteriakkan Robespierre kala memimpin revolusi. Ketika mereka menggantung King Louis XVI di depan penjara Bastille, seolah itulah kemenangan free will. Ini pula yang ditiru Kemal Attaturk kala mengkudeta Sultan Abdul Hamid II. Ia berkata: “Perbuatan siapa sekarang yang berkuasa, saya atau Tuhan?” Seolah berkata bahwa being adalah sepenuhnya perbuatan manusia.

Karena memang selepas Cartesius dan Kant, mencuat penyihir lain: Karl Marx, Einstein, sampai Sigmund Freud. Marx menyebut, segala sesuatu adalah materi. Freud menyerang aqidah Kristiani, “tak ada roh adikodrati, yang ada adalah dorongan alam bawah sadar.” Einstein merasa bahwa teorinya membuktikan, dialah yang “melempar bola,” bukan Tuhan.

Inilah yang menjadikan aqidah modernisme sebagai tunggal, kebenaran adalah sepenuhnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Tuhan. Hasilnya? Nihilisme, kata Nietszche. Tak lebih. Martin Heidegger dalam Being and Time memvonis, “Filsafat itu tak berpikir, tapi seolah-olah berpikir.”


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi