Jalan Sufi Melawan Sekulerisme: Free Will dan Krisis Kebenaran
Sekulerisme lahir dari filsafat Barat, menjauhkan agama dari ruang kehidupan publik
Dari Aquinas, filsafat pun mulai kembali dikenal di Eropa. Sebelumnya, mereka terputus sanad filsafat. Di Eropa Timur, Kaisar Romawi Justinianus I menutup Akademi Plato sejak abad ke-3 M. Karena mereka tahu bahayanya filsafat. Di Eropa Barat, Aquinas mengutip Mu’tazilah dan membawa filsafat masuk. Itu kisaran abad ke-12 M, pasca filsafat di-Islamkan. Maka, filsafat pun di-Kristen-kan. Di situlah renaissance berlangsung.
Era itulah skolastik dimulai. Tentang kebenaran ganda. Seolah akal juga sumber kebenaran. Ajaran Socrates, Plato, Aristoteles dibenarkan. Maka skolastisisme menyeruak. Eropa mulai belajar caranya “berpikir”. Mereka menuliskan “berpikir kembali” (renaissance). Tapi kala sebelum renaissance, bukan berarti mereka tak berpikir.
Periode skolastik itu, filsafat yang dominan masih filosof ilahiyyun—filsafat ketuhanan. Imam Al-Ghazali membagi tiga jenis filosof: filosof ilahiyyun (ketuhanan), filosof tabiyyun (naturalis), dan filosof dahriyyun (ateis). Skolastik masih “selamat”, karena filsafat masih berbicara tentang Tuhan. Tentu yang dimaksud ialah teori tentang Tuhan—teologi, tentu ini bukan Tauhid.
Baca juga: Antara Idealisme, Sufisme dan Sofisme
Masa skolastik, dogma masih dominan. Filsafat belum mampu meruntuhkan dominasi dogma. Tapi selepas skolastik, masuklah era modern. Ini yang disebut modernisme. Eksponennya banyak. Rene Descartes dengan teori cogito ergo sum. Maknanya: “aku berpikir maka aku ada.” Di sinilah kebenaran diletakkan pada akal semata. Tak ada lagi kebenaran wahyu, tak ada kebenaran ganda, tak ada kebenaran agama. Ini awal sekulerisme modern. Disusul oleh teori Kant tentang empirisme, penopang eliminasi kebenaran agama ini makin menjamur.
Rasionalitas murni ala Descartes dan empirisme ala Kant tentu mengeliminasi skolastik. Mereka mengakui bahwa kebenaran adalah sepenuhnya buah perbuatan manusia—bukan perbuatan Tuhan. Masa skolastik masih mengakui adanya dua perbuatan, perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Maka modernisme mengusung asas kehendak bebas murni—free will. Manusia seolah diberikan kuasa untuk mengatur dunia. Lewat ajaran filsafat, dilegitimasi bahwa Tuhan telah memberikan kuasa-Nya lewat akal manusia.
Ini yang diambil oleh Machiavelli, Montesquieu, Bodin, sampai Rousseau. Mereka mendefinisikan free will dalam urusan kekuasaan. Jadi, seolah manusia berhak menentukan siapa yang jadi pemimpin. Tak perlu lagi patuh pada vox regis vox Dei (suara raja suara Tuhan). Maka muncullah filosofi baru: vox populi vox Dei—suara rakyat adalah suara Tuhan. Tanpa landasan kitab suci.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

