Jalan Sufi Melawan Sekulerisme: Free Will dan Krisis Kebenaran

Sekulerisme lahir dari filsafat Barat, menjauhkan agama dari ruang kehidupan publik

Karena segalanya adalah perbuatan manusia, ujungnya perbudakan modern. Manusia tak dirantai, tak dibelenggu, apalagi diborgol. Tapi muncul sekelompok orang yang memanfaatkan free will untuk memperbudak sistem. Mereka yang menang. Robespierre menyadarinya, tapi terlambat. Ia dikudeta oleh Napoleon. Napoleon pun diperalat oleh sistem, lalu mati di Pulau Elba. Ia pun tak merasakan free will, hanya jadi budak sistem.

Jadi, dari Robespierre, Napoleon, hingga Attaturk, mereka hanyalah kelas pekerja. Padahal mereka mengabdi terang-terangan pada sekulerisme. Ujungnya, mati tanpa kemerdekaan. Attaturk paling hina, jenazahnya ditolak bumi. Karena ujung dari modernisme ini, para bankir yang meraja. Mereka memanfaatkan free will untuk menundukkan manusia. Itulah wajah kapitalisme, hanya segelintir yang menang.

Padahal, segala sesuatu adalah perbuatan Tuhan. Manusia hanya diberi kasab, bukan free will. Dari cogito ergo sum sampai ration scripta ala Kant, semuanya kesalahan berpikir. Karena manusia bukan penentu, Tuhanlah yang menentukan.

Baca juga: Etika Aristoteles, Menggapai Kebahagiaan melalui Keutamaan

Imam Ghazali sudah mengingatkan dalam Tahafut al-Falasifah, segala sesuatu adalah perbuatan Tuhan. Bahkan uap yang lahir dari api dan air pun adalah ciptaan Tuhan. Tuhan yang menciptakan air dan api beserta sifatnya. Maka, saat keduanya bertemu dan muncul uap, itu bukan semata sains—melainkan perbuatan Tuhan.

Kemerdekaan hakiki bukan berasal dari akal, tapi dari penghambaan. Alastu bi Rabbikum, ini kontrak antara Sang Pencipta dan ciptaan. Ibnu ‘Arabi berkata, “Mudah memahami Allah, yang sulit adalah memahami ciptaan.” Karena banyak yang terjebak menyembah ciptaan. Termasuk Descartes dan Kant, yang menuhankan ciptaan—yakni akal manusia.

Shaykh Abdalqadir as-Sufi (rahimahullah) berkata, “Jika ditanya, siapa yang menerbangkan burung? Orang menjawab, Tuhan. Tapi kalau ditanya, siapa yang menerbangkan pesawat? Mereka menjawab, manusia.” Maka seolah ada dua kehendak di udara, kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Inilah syirik modern. Mendua terhadap Tuhan. Padahal yang benar, hanya ada satu kehendak, yaitu kehendak Tuhan.

Sebagaimana firman Allah:

 وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

“Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaffat: 96) []

Irawan Santoso Shiddiq
Mudir Idarah Wustha JATMAN DKI Jakarta 2024–2029


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi