Wisuda Spiritual, Transformasi Ruhani dan Ied-nya Orang Tarekat
Idul Fitri adalah wisuda takwa, hasil pengendalian diri dan latihan ruhani
Maka sifat takhallaqu bi akhlaqillah ini mendekati sifat kemalaikatan. Maka diangkatnya derajat orang beriman lewat puasa adalah untuk menaikkan sifat kemalaikatan, sehingga sifat tersebut tertanam di dalam jiwa kita.
Orang yang berpuasa sejatinya sedang beribadah sepanjang waktunya. Detik demi detik, saat lapar, haus, dan lemah, ia berada dalam keadaan dzikrullah. Puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga mengangkat energi ruhani ke arah yang lebih tinggi, menjadikan seluruh tubuhnya terlibat dalam ibadah kepada Allah.
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. (Surat Al-Baqarah: 45)
Ulama tafsir, terutama kalangan kaum sufi, sepakat bahwa ash shabr dalam ayat itu adalah berpuasa. Artinya, mintalah pertolongan kepada Allah melalui shalat dan puasa. Maka puasa itu adalah menaikkan derajat kemalaikatan dalam diri orang-orang beriman.
Ini ada keterkaitannya. Dulu malaikat sempat meragukan manusia ketika Allah berfirman bahwa Dia ingin menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Malaikat bertanya, mengapa bukan mereka saja, padahal mereka selalu bertasbih dan menyucikan Allah. Ini bagian dari ibrah, bahwa dahulu manusia diragukan karena potensi nafsu dan syahwatnya.
Maka Allah memberikan “resep” melalui shaum (puasa) untuk mengolah nafsu dan syahwat manusia dengan cara mengurangi makan. Karena itu, ibadah shaum adalah ibadah kaum sufi, sebagai riyadhah (latihan spiritual). Dalam kitab Al Anwar Al Qudsiyah Fi Qawaid As Shufiyah, para salik dianjurkan sering mengosongkan perut agar syahwat tidak menguat.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

