Wisuda Spiritual, Transformasi Ruhani dan Ied-nya Orang Tarekat

Idul Fitri adalah wisuda takwa, hasil pengendalian diri dan latihan ruhani

Kedua, sabu’iyah, karakteristik binatang buas. Jadi dalam diri manusia itu ada galak, marah, tidak mau kalah. Di dalam diri manusia itu kalau tidak ada rasa marah, kata Fakhruddin Ar-Razi, manusia tidak sempurna karena untuk pertahanan diri. Sifat marah itu ada, tapi untuk pertahanan diri, bukan untuk menyerang, untuk menghadapi orang yang lemah ditindas.

Sifat binatang buas ini ditekan oleh adanya puasa, dilemahkan syahwat manusianya. Orang yang sedang puasa diajak bertengkar, pasti bilang: Ana sha’im, ana sha’im (maaf sedang berpuasa). Jadi sifat binatang buasnya itu ditekan dengan dikuranginya makan dan minum.

Ketiga, syaithaniyah, karakteristik manusia di mana kecerdasannya sering digunakan untuk menipu, melakukan tipu daya kepada manusia lain (licik).

Dalam diri manusia terdapat tiga kecenderungan: bahimiyah (naluri biologis), sabu’iyah (amarah dan agresi), dan syaithaniyah (kelicikan dan tipu daya). Puasa hadir sebagai latihan untuk menahan dan melemahkan ketiganya, agar manusia tidak dikendalikan oleh hawa nafsunya.

“Hal tersebut bisa dilihat dalam kitab Qutul Qulub karya Abu Thalib Al-Makki, gurunya Imam Al-Ghazali. Makanya kitab Qutul Qulub ini diulang-ulang lagi oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ dan Kimiya’us Sa’adah. Ini psikologi Islam sebenarnya,” lugasnya.

Puasa Riyadhah Kaum Sufi

Nah, sifat manusia yang tiga ini dicoba untuk ditekan, tetapi di saat yang sama dinaikkan sifat malakiyah, yakni sifat kemalaikatan. Malaikat tidak butuh makan, tidak butuh minum, tidak membutuhkan hubungan suami istri karena mereka tidak punya hawa nafsu. Sifat malakiyah ini adalah ketenangan dalam jiwanya. Dia beribadah terus-menerus, senang pada ilmu, senang pada kebenaran.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi