Wisuda Spiritual, Transformasi Ruhani dan Ied-nya Orang Tarekat
Idul Fitri adalah wisuda takwa, hasil pengendalian diri dan latihan ruhani
Bahkan dalam manaqib disebutkan bahwa Syekh ‘Abdul Qadir al-Jilani dalam riyadhahnya tampak pucat dan lemah, sampai harus digotong karena kuatnya menahan diri. Ini bagian dari proses suluk.
Maka mengurangi makan adalah tradisi ibadah kaum sufi. Ini proses yang Allah tetapkan melalui puasa. Allah menunjukkan bahwa manusia bisa seperti malaikat dalam kualitas rohaninya. Allah juga membanggakan hamba yang berzikir dengan suara lantang: “Wahai malaikat-Ku, dengarkan si fulan menyebut nama-Ku dengan lantang. Aku pun menyebut namanya di hadapan kalian.”
Menjaga Kesucian Pasca Ramadhan
Iman terus bertambah, sebagaimana ayat liyazdādū īmānan ma‘a īmānihim. Meskipun usia bertambah dan fisik melemah, ruhani harus naik. Jangan sampai fisik rusak dan ruhani ikut rusak—itu kerugian besar.
Hari itu disebut yaumul jā’izah—hari pemberian gelar. Allah memberikan gelar kepada orang-orang beriman: raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu. Mereka ridha kepada Allah, maka Allah pun ridha kepada mereka.
Sebagaimana firman Allah:
وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
[Surat Asy-Syams: 9-10]
Beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan rugilah yang mengotorinya kembali—terutama setelah Ramadhan, di bulan Syawal.
Maka hati-hati jebakan setan di bulan Syawal. Setelah satu bulan menahan diri, jangan sampai kembali bebas tanpa kontrol. Karena itu Rasulullah menganjurkan puasa lanjutan di bulan Syawal.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

