Penawar Pahitnya Kehidupan, Resep Imam Qusyairi dan Imam Ghazali
Jangan salah memaknai hakikat dari tawakal yang sebenarnya
Imam al Ghazali menambahkan lagi, “sungguh syukur itu berada dalam tingkatan (maqam) sangat tinggi (dalam perjalanan seorang salik), lebih tinggi dari pada tingkatan sabar, khauf, zuhud, taubat, dan maqamat (salikin) yang lainnya.”
Adapun yang dituju dari pada sabar ialah memaksa hawa nafsu (agar tidak terjerumus pada sifat-sifat yang tercela). Dan khauf ialah cambukan (peringatan) terhadap seseorang agar menuju kepada sesuatu yang terpuji (diridhai oleh Allah). Kemudian zuhud ialah memerangi segala sesuatu yang menyibukkan dirinya dari selain Allah. Sedangkan syukur yang dituju olehnya ialah bentuk tuntutan dari pada dirinya sendiri (tanpa ada embel-embel yang lain), begitupun bersyukur akan tetap langgeng berada di surga dalam pengaplikasiannya, sebagai mana dalam Al Arbain fi Ushuliddin:
“(Bersyukur itu) tak terhenti (hanya di dunia, akan tetapi ia hadir) di surga, tidak ada di dalam surga (bentuk ibadah seperti) taubat, khauf, sabar dan zuhud, akan tetapi (bentuk ibadah) bersyukur akan terus ada di surga.”
Baca juga: Hati-hati Kefakiran Dekat Dengan Kekufuran
Hal ini juga sebagaimana telah maktub dalam Al Quran:
Yang menjadi dalil bahwa syukur selalu digaungkan, bukan hanya di dunia namun juga di surga. Lafadz alhamdulillah dalam ayat tersebut ialah sighat lafadz syukur sebagaimana definisi ulama tentang syukur.
Mengucapkan alhamdu (memuji Allah atas segala nikmat, terlebih nikmat yang Allah Swt berikan di surga) dan mengaplikasikan amal shalih dalam perbuatan.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

