Penawar Pahitnya Kehidupan, Resep Imam Qusyairi dan Imam Ghazali
Jangan salah memaknai hakikat dari tawakal yang sebenarnya
Bangun! kamu salah memahami hakikat dari tawakal. Abu Qasim Al Qusyairiy atau lebih dikenal dengan Imam Qusyairiy, beliau memberikan gambaran mengenai hakikat tawakal dalam kitabnya Ar Risalah Al Qusyairiyyah, beliau berkata,
Ketahuilah, tawakal itu bertempat di hati (al amaliyah al bathiniyyah), adapun usaha lahiriyyah itu tidak menafikan atau merusak (makna) tawakal (yang menjadi pekerjaan) hati selama seorang hamba benar-benar yakin (di hatinya) bahwa takdir berasal dari Allah Swt. Jika suatu perkara itu terlihat sulit, maka hal tersebut tiada lain datang dari takdir-Nya (Allah Swt). Dan jika suatu kenyataan sesuai dengan keinginannya, maka itu terjadi berkat kemudahan yang Allah Swt berikan.”
Baca juga: Tiga Prinsip Bersyukur Yang Penting Diketahui
Makna sederhananya, tawakal adalah berserah diri kepada Allah Swt. Ia merupakan pekerjaan hati (batin), namun pengertiannya tidak lengkap apabila hanya berserah diri saja tanpa adanya usaha dan upaya. Baginda Nabi Muhammad Saw telah mengajarkan gambaran tawakal dalam hadis yang diriwayatkan oleh Amr bin Umayyah.
“Dari Amr bin Umayyah ra, (ia bercerita bahwa suatu hari seseorang dengan mengendarai untanya) mendatangi Rasulullah. Kemudian seseorang itu berkata: “wahai Rasulullah, aku melepasnya dan aku bertawakal”. Rasulullah menjawab: “Ikatlah untamu dan tawakallah!”
Dari hadis ini kita bisa memetik kesimpulan, bertawakal pun mesti dibarengi dengan adanya ikhtiar, upaya dan usaha.
Ada tingkatan yang lebih menarik dari sabar dan tawakal, apa itu? Bersyukur. Kenapa demikian? Galibnya seseorang bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Hal tersebut memang sangat dianjurkan bahkan diwajibkan. Manakala tidak demikian, bisa jadi ia termasuk kepada orang yang kufur nikmat. Syariat sangat mengecam orang tersebut, dengan konsekuensi yang sangat berat apabila tidak ditaubati.
Baca juga: Alhamdulillah Maqam Fana’ Dalam al Qur’an
Namun, ada yang lebih dari itu, manakala seseorang mendapatkan musibah, ia mampuh bersyukur atas apa yang ia terima, sebagaimana yang dikatakan Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al Arbain Fi Ushuliddin.
Nabi Saw bersabda: “Akan dipanggil ketika hari kiamat: mereka orang-orang yang sangat terpuji, maka terbangunlah sebagian golongan, dan diberikan kepada mereka sebuah bendera, kemudian mereka masuk ke dalam surganya Allah. Kemudian ditanyakan: “siapakah orang-orang yang sangat terpuji itu?”, maka nabi berkata: “mereka adalah orang-orang yang selalu bersyukur kepada Allah dalam keadaan apapun.”
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

