Ngaji Fiqih: 3 Hal Yang Membolehkan Tayamum

Majelis Dzikir SAEPI setiap pekannya menggelar ngaji fiqih secara online. Salah satu pembahasannya ialah menyangkut tiga hal yang menyebabkan bolehnya seseorang bertayamum. Dalam kitab Safinatun Najah Syekh Salim berkata:

أسباب التيمم ثلاثة: فقد الماء ، والمرض ، والاحتياج إليه لعطش حيوان محترم

“Sebab-sebab dibolehkannya tayamum ada tiga, pertama, tidak ada air, baik di tengah-tengah perjalanan atau di tengah-tengah mukim. Maksudnya baik itu bagi musafir maupun orang yang mukim, ia tidak mendapatkan air untuk berwudhu,” ujar ustadz H. M. Ruhiyat Haririe, B.A. pengampu kajian kitab fiqih dengan Syarah Kasyifatus Saja tersebut.

Kondisi lainnya, memang ada air namun ada hajat yang lebih membutuhkan air, maka diperbolehkan tayamum. Namun, wajib baginya untuk tetap mencari air terlebih dahulu sebelum melakukan tayamum.

Kendati demikian, ustadz Haririe menjelaskan bahwa mencari air itu syaratnya dilakukan setelah masuknya waktu shalat, karena tayamum adalah thaharah darurat.

Karena tidak ada darurat dalam keadaan yang masih dimungkinkannya melakukan thaharah atau imkan at thaharah dengan air sebelum masuknya waktu shalat. Apabila ada orang lain yang mencarikan air dan ia tidak diizinkan maka belum mememnuhi dari tuntutan kewajiban mencari air.

Baca juga: Ngaji Fiqih Ini Rukun Wudhu dan Sunnahnya

Kedua, sakit. Sebab kedua yang memperbolehkan tayamum adalah sakit. Sakit dibagi menjadi tiga macam, yaitu;

a. Sakit yang jika melakukan wudhu (menggunakan air) maka dikuatirkan akan menyebabkan mati, hilangnya anggota tubuh, dan hilangnya fungsi anggota tubuh.

Begitu juga, ketika seseorang mengidap penyakit yang tidak mengkhawatirkan, tetapi ia hanya khawatir jika menggunakan air maka penyakitnya itu akan menjadi penyakit yang mengkhawatirkan. Maka dalam semua kondisi tersebut, ia diperbolehkan tayamum.

b. Sakit yang jika menggunakan air untuk bersuci maka rasa sakitnya tersebut akan bertambah parah meskipun tidak bertambah masa perkiraan sembuh.

Atau sakit yang jika menggunakan air untuk bersuci maka masa perkiraan sembuh akan bertambah lama meskipun rasa sakitnya tidak bertambah.

Atau sakit yang jika menggunakan air untuk bersuci dikuatirkan sakitnya tersebut akan menjadi dhini, yaitu sakit yang hampir mendekati kematian.

Atau sakit yang jika menggunakan air untuk bersuci maka akan dikuatirkan menyebabkan cacat buruk. Maka dalam kondisi seperti ini tayamum diperbolehkan.

c. Sakit yang jika menggunakan air untuk bersuci maka akan dikuatirkan menyebabkan munculnya cacat ringan, seperti; bekas jerawat atau hitam-hitam sedikit, atau akan dikuatirkan cacat berat yang menimpa bagian anggota tubuh yang tidak nampak.

Atau sakit yang jika menggunakan air untuk bersuci tidak dikuatirkan adanya bahaya setelahnya, meskipun merasakan sakit saat sedang menggunakan air tersebut sebab luka, dingin, atau panas, maka dalam kondisi-kondisi sakit seperti itu tidak diperbolehkan tayamum secara pasti tanpa ada perselisihan pendapat di kalangan ulama.

Mahasiswa yang sedang kuliah di Sudan itu juga mengungkapkan, untuk mengetahui parah tidaknya suatu penyakit jika terkena air, orang sakit boleh berpedoman dengan perkataan dokter yang adil riwayatnya, atau boleh mengamalkan pengetahuan yang ia miliki sendiri tentangnya, sekiranya ia adalah orang yang tahu tentang ilmu pengobatan.

Ketiga, ada air tetapi hanya sekadar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang muhtaram (dihormati).

Baca juga: Dosa Lahir dan Batin

Sebab ketiga yang memperbolehkan tayamum adalah air yang tersedia dibutuhkan untuk memenuhi rasa haus hewan yang muhtaram atau dimuliakan.

Pengertian hewan muhtaram adalah hewan yang haram membunuhnya, seperti yang dikatakan oleh Nawawi dalam kitab al-Idhah:

ولو وجده وهو محتاج إليه لعطشه أو عطش رفيقه أو دابته أو حيوان محترم تيمم ولميتوضأ سواء في ذلك العطش في يومه أو فيما بعده قبل وصوله إلى ماء آخر قال أصحابنا ويحرم عليه الوضوء في هذا الحال لأن حرمة النفس آكد ولا بدل للشرب وللوضوء بدل وهو التيمم والغسل عن الجنابة وعن الحيض وغيرهما كالوضوء فيما ذكرنا هو سواء كان المحتاج للعطش رفيقه المخالط له أو واحداً من القافلة وهو المسافر والركب

Apabila seseorang mendapati air, tetapi ia butuh air tersebut untuk memenuhi rasa hausnya sendiri, atau temannya, atau binatangnya, atau hewan muhtarom lain, maka ia bertayamum dan tidak perlu berwudhu dengan air tersebut, baik rasa haus tersebut dirasakan pada hari itu juga atau hari setelahnya sebelum ia sampai mendapati air lain.

Para ashab kami mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, ia diharamkan berwudhu dengan air tersebut karena mempertahankan nyawa adalah lebih dianjurkan.

Lagi pula, minum pada saat itu tidak bisa digantikan oleh selainnya, sedangkan wudhu masih dapat digantikan dengan selainnya, yaitu tayamum. Mandi dari jinabat, haid, dan lainnya adalah seperti wudhu dalam rincian hukum tayamum karena butuhnya pada air seperti yang telah kami sebutkan.

Begitu juga, diperbolehkan tayamum karena air yang tersedia dibutuhkan untuk memenuhi haus orang lain, baik orang lain tersebut adalah temannya sendiri atau seseorang dari kafilah.

Baca juga: Keutamaan dan Keistimewaan Ibadah Shalat

Lalu, apa saja yang masuk kategori ghairu muhtaram?

غير المحترم ستة : تارك الصلاة والزاني المحصن والمرتد والكافر الحربي والكلب العقور والخنزير

Dikatakan dalam matan safinah tadi ada enam golongan yang masuk dalam kategori ghairu muhtaram.

Satu, tarikus shalah (orang yang meninggalkan shalat). Maka dalam hal ini, air lebih diutamakan untuk diri seorang muslim yang shalih dan taat daripada untuk memberi minum orang yang meninggalkan shalat, terutama setelah diberi nasehat dan dijelaskan mengenai kewajiban shalat.

Dua, pezina yang muhshan. Siapa pezina muhshan? yaitu mereka yang memenuhi syarat-syarat ihshan (atau seseorang bisa disebut dengan muhshan) berikut ini; baligh, berakal, merdeka, dan telah terjadi jimak dalam pernikahan yang sah.

Tiga, murtad, yaitu orang yang telah memutus keislamannya. Empat, kafir harbi, yaitu kafir yang tidak ada ikatan perdamaian bersama dengan kaum muslimin, atau memerangi kaum muslimin. Lima, anjing yang galak, yakni yang suka melukai. Enam, babi.

Rekomendasi
Komentar
Loading...