Dua Amaliah Yang Mesti Diintensifkan di Bulan Ramadhan

Ramadhan sebaiknya dijadikan kesempatan peningkatan ibadah, dzikir, khataman, manakiban dan shalat-shalat sunat harus diintensifkan. Secara sosial, kita harus saling membantu dan menyayangi dengan sesama. Dan perbanyaklah sedekah (dengan berbagai bentuk sesuai kemampuan). Demikian pesan Pangersa Abah Anom pada Ramadhan 1412 H yang dirilis oleh LDTQN Suryalaya.

Paling tidak ada dua pesan yang terkandung dalam tausiah tersebut. Pertama bulan Ramadhan adalah bulan dan momentumnya peningkatan ibadah.

Secara khusus, KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin menyebut amaliah ikhwan akhwat TQN Suryalaya, yakni dzikir, khataman dan manakiban.

Selain itu, Guru Mursyid juga menekankan ibadah berupa shalat-shalat sunat, bahkan harus secara intensif dikerjakan. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Rasulullah Saw bersabda: Allah berfirman: Dan hamba-ku tidak bisa mendekat pada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku secara intensif mendekat pada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia. (HR. Bukhari).

Baca juga: Tradisi Abah Anom yang Diharap Hidup Kembali

Untuk mendekatkan diri kepada Allah diawali dengan menunaikan hal yang fardhu, baru disusul dengan mengamalkan amalan sunnah yang dikerjakan secara intensif. Dengan begitu, Allah akan mencintai hamba tersebut. Dari sini kita bisa berkata, bahwa Pangersa Abah Anom mengarahkan murid-muridnya agar mendapat mahabbah Allah Swt.

Al Imam Ibrahim An-Nakha’i (w 96 H), seorang ‘alim faqih shaleh ternama dari generasi tabi’in yang merupakan murid utama Ibnu Mas’ud dan di antara guru utama Imam Abu Hanifah, bertutur:

“Berpuasa satu hari pada Bulan Ramadhan lebih baik dari berpuasa seribu hari (pada bulan-bulan lainnya). Membaca tasbih satu kali pada Bulan Ramadhan lebih baik dari membaca tasbih seribu kali (pada bulan-bulan lainnya). Mengerjakan satu rakaat shalat pada bulan Ramadhan lebih baik dari mengerjakan seribu rakaat shalat (pada bulan-bulan lainnya)”. Demikian diambil oleh Dr. Aep Saepuloh Darusmanwiati, MA dari kitab Lathaiful Ma’ârif Fîmâ Limawâsim al-‘Âm Minal Wazhâif, karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali.

Jika pesan pertama lebih terkait dengan ibadah secara ritual atau ibadah mahdhah. Pesan kedua yang disampaikan beliau, justru berkenaan dengan ibadah ghairu mahdhah. “kita harus saling membantu dan menyayangi dengan sesama”.

Baca juga: Rutinitas Pangersa Abah Anom Jelang Buka Puasa

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim).

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya yang di langit menyayangimu. (HR. Tirmidzi).

Penyusun Kitab Miftahus Shudur hendak menyeimbangkan amaliah yang mesti ditingkatkan tatkala di bulan Ramadhan sebagai upaya pembiasaan.

Seakan beliau hendak berkata, bahwa ibadah ritual dan ibadah sosial mesti berjalan beriringan dan seimbang. Hubungan yang baik dengan Allah Swt diaplikasikan dalam hubungan yang baik dengan sesama.

Ibadah ritual yang tidak berbuah ibadah sosial bahkan dikecam di dalam Al Qur’an, sebagaimana digambarkan dalam surah al Ma’un. Itu sebabnya amaliah TQN bukan hanya dzikir, khataman, manakiban (DKM) tapi juga Tanbih dan untaian mutiara.

Pangersa Abah Anom secara gamblang menyebut, “perbanyaklah sedekah”. Ini berarti setiap ikhwan punya potensi untuk bersedekah sesuai kemampuan. Sedekah sifatnya lebih fleksibel, karena bisa berupa harta, ilmu, tenaga, dan akhlak yang baik.

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ، وَالشَّوْكَةَ، وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, kamu berbuat ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, kamu menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, kamu menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan kamu menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah. (HR. Tirmidzi).

Baca juga: Pesan Abah Anom Agar Pengamal TQN Belajar Ilmu Keislaman

Memperbanyak sedekah juga merupakan anjuran nabi Saw. Bahkan beliau digambarkan sebagai orang yang kedermawanannya melebihi dari pada angin yang berhembus. Rasulullah Saw adalah orang yang paling murah hati. Dan lebih dermawan lagi, terutama pada bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).

فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

Dari Anas bin Malik ra: Sedekah apa yang paling utama? Nabi Saw menjawab; sedekah di bulan Ramadhan. (HR. Tirmidzi).

Dengan kalimat lain, Pangersa Abah Anom berkeinginan agar ikhwan TQN memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat sesuai dengan kemampuan, jangan enggan memberi lantaran menganggapnya sedikit.

Beliau berkata perbanyaklah, artinya yang kita anggap sedikit pun jika kuantitasnya diperbanyak atau sering dilakukan maka itu bisa menjadi banyak. Sebaliknya, yang punya potensi besar, atau kemampuan lebih tapi jarang berkontribusi, bisa bernilai lebih sedikit dibandingkan yang sedikit tapi terus menerus.

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amal yang paling dicintai Allah yaitu yang paling konsisten meskipun sedikit (HR. Muslim).

Rekomendasi