Asyik Tanpa Sampah Plastik, Kiai Wahfi: Bumi Tanggung Jawab Kita

Komposisi sampah berdasarkan jenis sampah yang tertinggi di Indonesia adalah sampah dari jenis sisa makanan (28,2 %) dan yang kedua ialah jenis sampah dari plastik (15,4 %). Demikian ungkap Hening Parlan Ketua Divisi Lingkungan Hidup Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam Talkshow “Bumiku Asyik Tanpa Sampah Plastik”, Senin (06/06) lalu.

Ia menyayangkan bahwa sebagai mayoritas muslim, justru sampah terbesar datangnya dari sisa makanan. Bukankah sebagai muslim dilarang membuang makan, katanya.

Sampah yang dikampanyekan di dunia untuk di-reduce ada lima jenis, yakni sampah dari plastik, elektronik, pakaian, bangunan dan makanan. Kelima jenis sampah ini adalah problem di dunia, bukan hanya di Indonesia.

“Kalau kita lihat lagi komposisi sampah berdasarkan sumbernya, maka tertinggi sumbernya adalah di rumah tangga. Jadi kenapa kita kemudian harus ngomongin sampah, karena orang hidup dan segala hal yang dilakukan itu berdampak pada sampah,” ujarnya.

Baca juga: Waktunya Kampanyekan Lingkungan Melalui Mimbar Masjid dan Mimbar Digital

Data sampah plastik yang terbaru menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) total sampah nasional pada 2021 mencapai 68,5 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 17 persen atau sekitar 11,6 juta ton, disumbang oleh sampah plastik.

Peningkatan sampah plastik, tambahnya, diakibatkan oleh gaya hidup yang ingin praktis. Sehingga, pemakaian plastik sekali pakai pun meningkat.

Maka menurutnya, penting kebijakan dari hulu ke hilir dan upaya luar biasa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan melakukan dua hal. Pertama secara individual memilah sampah dan yang kedua produsen yang memproduksi barang.

Rekomendasi