Wejangan Pangersa Abah Anom dalam Menempuh Jalan Tarekat

Ia seyogyanya bertekad untuk menjadi manusia dan hamba Allah yang lebih baik lagi

Pangersa Abah Anom menyebutkan sebagian koreksian diri yang bisa jadi ada di dalam diri kita masing-masing. “Jangan sampai iktikad kita terisi oleh takabur, mudah tersinggung, suka mencari kesalahan orang lain, kikir, dzalim, sombong, riya, khianat, suka memfitnah, dsb,”.

Jika dicermati hal buruk yang disebutkan Abah merupakan sifat dan sikap jelek yang bisa merusak hubungan diri dengan orang lain termasuk terhadap keluarga sendiri. Jika rusak hubungan dengan sesama maka keharmonisan akan hilang, kerjasama sulit diraih, dan lingkungan akan menjadi tidak nyaman serta mengikis rasa persaudaraan, tidak ada lagi kepedulian dan tanggung jawab bersama. Jika sudah demikian, maka solidaritas dan ketahanan nasional kita sebagai anak bangsa bisa terancam. Terlebih lagi jika penyakit-penyakit itu menghinggapi para pemimpin bangsa di berbagai levelnya. Meski begitu, masih banyak yang belum disebutkan, dan tentunya punya banyak dampak buruk bagi diri dan kehidupan.

Setelah kita menyadari sifat buruk yang ada dalam diri melalui introspeksi diri, maka bersihkan hal tersebut melalui dzikrullah.

“Bersihkan itu dengan dzikir yang mantap dan meresap,” pungkas Wali Mursyid TQN Pontren Suryalaya.

Baca juga: Abah Anom, Keshalihan Seseorang Hasil dari Dzikirnya

Menyadari adanya kejelekan belum otomatis untuk menghilangkan sifat jelek tersebut. Pangersa Guru Agung memberikan metode untuk membersihkan aneka sifat jelek tersebut. Yakni melalu dzikir Jahr dan dzikir khofiy yang mantap dan meresap sebagaimana telah ditalqinkan oleh beliau secara langsung atau melalui para wakil talqinnya. Hal ini sebagaimana disebutkan beliau dalam kitab Miftahus Shudur,

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَقِّنُ هَذِهِ الكَلِمَةَ الطَّيِّبَةَ لِلصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لِتَصْفِيَةِ قُلُوبِهِمْ وَتَزْكِيَةِ نُفُوسِهِمْ وَإيصَالِهِمْ إِلَى الحَضْرَةِ الإلهَيَّةِ وَالسَّعَادَةِ القُدْسِيَّةِ

Nabi Saw mentalqin kalimat thayyibah ini kepada para sahabatnya Ra untuk membersihkan qalbu mereka, dan menyucikan jiwa mereka, serta menyampaikan mereka ke hadirat Allah serta kebahagiaan yang suci.

Wejangan ini juga memberi pengertian bahwa introspeksi diri menjadi bagian penting dalam proses melakukan pembersihan qalbu dan penyucian jiwa bagi seorang salik atau penempuh jalan tarekat. Secara praktik, kita bisa me-listing sifat jelek kemudian lakukan pembersihan.[]


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi