Tasawuf Wujud Akhlak Sahabat, Tabi’in dan Salafus Salih

Dalam kitab Husnut Thalattuf fi Bayani Wujubi Sulukit Tasawuf, Sayyid Abdullah bin Muhammad Shiddiq Al Ghumari menyebut tasawuf adalah perwujudan dari akhlak para sahabat, tabi’in dan salafus salih yang kita juga diperintahkan untuk senantiasa mengikuti mereka dan mendapatkan petunjuk dari mereka.

Para sahabat misalnya mereka bergegas dalam melaksanakan perintah Allah Swt, mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Saw, merasakan manisnya iman dan nikmatnya beribadah serta rahasia di baliknya.

Seperti yang diungkap sahabat Ibnu Abbas ra, saat menggambarkan bagaimana seharusnya kita shalat.

يكرَه أَنْ يَقُومَ الرجلُ إِلَى الصَّلَاةِ وَهُوَ كَسْلَانُ، وَلَكِنْ يَقُومُ إِلَيْهَا طَلْقَ الْوَجْهِ، عَظِيمَ الرَّغْبَةِ، شَدِيدَ الْفَرَحِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي اللَّهَ [تَعَالَى] وَإِنَّ اللَّهَ أَمَامَهُ يَغْفِرُ لَهُ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ

Makruh (dibenci) seseorang yang mendirikan shalat dalam keadaan malas, tetapi orang yang mendirikan shalat itu seharusnya wajahnya lepas (tanpa beban dan keluhan), penuh pengharapan kepada-Nya dan sangat gembira. Karena orang yang shalat itu sejatinya sedang bermunajat dengan Allah Swt, sesungguhnya Allah di hadapannya, beliau akan mengampuni dan mengabulkan ketika dia berdoa. Baca juga…

Oleh karenanya, para sahabat adalah pionir pengamal zuhud, mereka senantiasa melakukan mujahadah (upaya sungguh-sungguh mengendalikan diri), ada mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasul-Nya dalam qalbunya, orientasinya akhirat, sabar, rela berkorban, ridha, berserah diri pada Allah, dan berbagai akhlak lain yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Akhlak yang demikian itu turun menurun ke generasi selanjutnya tabi’in, dan seterusnya hingga generasi saat ini, melaui yang dikenal dengan tasawuf dan thariqah (tarekat). Jika ada pertanyaan, apakah tasawuf itu sudah ada di zaman para sahabat, maka jawabannya adalah iya, sebab mereka lah generasi awal yang bertasawuf di bawah bimbingan Rasulullah Saw, meski nama tasawuf belum dikenal saat itu, tetapi esensinya telah mereka amalkan dan wariskan ke generasi selanjutnya.

Maka seluruh pengikut sahabat dan generasi setelahnya menjadikan akhlak dan ahwal (kondisi ruhani) para sahabat yang mulia itu sebagai jalan hidup, meski kualitasnya bisa jadi tidak sama persis dengan generasi sebelumnya.

Hingga sampai pada masa bermunculannya bid’ah-bid’ah yang merusak agama, orang mulai loyo dalam beribadah dan mengabaikannya, orang-orang saling berebut dunia, hawa nafsu menjajah manusia, maka ketika itu cahaya qalbu yang menerangi mulai meredup sebagaiman redupnya agama pada saat itu, di mana hakikat kebenaran menjadi terbolak balik.

Peristiwa ini dimulai sekitar akhir abad pertama hijrah. Tahun demi tahun berlangsung hingga membuat risau para ulama salafus salih terhadap agama. Maka mereka berinisiatif untuk menjaga agama Islam yang mulia.

Sebagian ulama berupaya menjaga pilar agama yang pertama yakni Islam dan menetapkan hal yang bersifat furu’ (cabang) dan kaidah-kaidahnya. Kelompok ulama yang lain berupaya menjaga pilar agama yang kedua yakni Iman dan menetapkan hal yang sifatnya ushul (pokok-pokok keyakinan) dan kaidah-kaidahnya sebagaimana yang dianut oleh ulama salafus salih. Lalu golongan ulama selain keduanya menjaga pilar agama yang ketiga yaitu ihsan, dan segala amal perbuatan (akhlak) dan ahwal-nya.

Golongan ulama pertama yang menjaga pilar Islam ialah Imam Mazhab yang empat serta pengikutnya. Sedangkan ulama kedua ialah Imam Abul Hasan al Asy’ari, para guru dan pengikutnya. Adapun golongan ulama yang ketiga adalah Imam Junaid, para guru dan pengikutnya.

Apa yang dilakukan para ulama ini adalah bagian dari bukti sabda nabi Saw yang menyatakan,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Akan tetap ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran. Mereka tidak pernah terpengaruh oleh orang yang menghinakan mereka, sampai datang hari kiamat dan mereka tetap berlaku seperti itu (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini juga menegaskan bahwa para ulama lah yang menjadi pewaris dari nabi Saw, mulai dari ilmu, akhlak, ahwal, ibadah serta amaliahnya. Dan tanpa melalui para ulama, kita tidak bisa meneladani Rasulullah Saw dan beragama secara utuh.

Penggagas Tarekat

Tasawuf adalah implementasi dari salah satu rukun agama yaitu ihsan, rukun agama yang paling agung dan menjadi ruhnya. Imam Junaid dari kelompok ulama ketiga ini tidak bisa disebut sebagai penggagas tarekat, sebab tarekat berdasarkan wahyu ilahi dari Allah Swt.

Jadi penisbatan tarekat kepada Imam Junaid al Baghdadi Imam Junaid karena beliau dinilai telah berjasa dan berpengaruh besar dalam menjaga salah satu pilar agama yakni ihsan. Beliau telah menetapkan kaidah-kaidah, ushul (pokok-pokok) dan berperan dalam mengajak orang untuk mengamalkan tasawuf di tengah kemunduran umat dan saat banyak kalangan meninggalkannya. Hal ini juga berlaku bagi sebab dinisbatkannya aqidah pada Imam Asy’ari, dan fiqih kepada Imam Mazhab yang empat, meskipun kesemuanya itu (baik aqidah, fiqih, tasawuf) bersumber dari wahyu Allah Swt. Baca juga…

Maka wujud yang sebenarnya dari tasawuf dan tarekat ialah tidak lebih dari akhlak mulia, sifat dan perilaku yang indah dari sahabat dan tabi’in, yang Allah dan Rasul-Nya menyeru untuk berakhlak mulia serta memuji perilaku orang yang berakhlak mulia tersebut. singkatnya,  tasawuf dan tarekat disusun dan dihimpun oleh ulama sufi agar memudahkan kita bisa berakhlak sebagaimana para sahabat, tabi’in dan salafus salih berakhlak mulia dan punya kualitas ruhani yang baik.

Akhlak adalah misi utama Rasulullah Saw, sebab beliau tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sehingga dari sini Imam Junaid al Baghdadi berkata bahwa tasawuf itu sejatinya adalah akhlak.

التصوف استعمال كل خلق سني ، وترك كل خلق دني

Tasawuf adalah penggunaan setiap akhlak yang mulia dan meninggalkan setiap akhlak yang hina.

#tasawuf #akhlak #salafussalih

Rekomendasi