Tarekat Dzikir Membentuk Politik Perenial

Politik adalah kepedulian Rabb, sehingga Dia pun turun terlibat untuk berpolitik

Sebuah adagium: “Bila hati sakit, kemana obat hendak dicari”. Seseorang mungkin menduga cukup dengan maaf seluruh kesakitan itu akan lenyap. Apakah benar demikian? Apakah paku yang telah ditancapkan ke sebuah papan itu masih bisa diperbaiki setelah pakunya dicabut kembali? Pada kenyataannya, tetap saja ada lubang yang menganga, yang tidak mudah untuk diperbaiki. Maaf lebih “menekan” sakit hati ketimbang membersihkannya

Dzikir Membingkai Politik

Di dalam keadaan apapun, seorang Sufi akan mendawamkan dzikir sebagai alat pembersihan ruang hati dari memori buruk bawah sadar. Dia akan mendawamkan dzikir demi kesatuan jasad dan ruh, terlebih ketika ghaflah (red: lalai), ketika ingatan menyimpang dari realitas kekiniannya. Ketika pikiran apapun berkeliaran mengganggu stabilitas mental dan emosionalnya. Memori batin yang kacau balau, refleksinya adalah ucapan dan perbuatan yang kacau balau juga. Indikatornya sebagaimana dauhan pangersa Abah Anom dalam kuliah beliau: “loba pikiran kaditu kadieu“.

Fenomena politik merupakan segmentasi fenomena kehidupan ini. Fenomena tidak tetap, selalu berubah-ubah. Bila hati melekat pada fenomena, maka keadaan hati akan berubah-ubah. Fenomena hoaks, fenomena ingatan, dan sebagainya. Fenomena uang misalnya, maka keadaan batin selalu berubah-ubah seiring dengan perubahan jumlah uang.

Tidak masalah mau aktif di komunitas politik manapun, selama batin tetap, maka fenomena apapun di dalamnya tidak akan mempengaruhi keadaan batin. Partai politik yang dijadikan sebagai wasilah kekuasaan cenderung memiliki visi dan misi kemaslahatan jamaah (bangsa). Semua memiliki pandangan universal, walau tentu saja masing-masing komunitas memiliki karakter yang membedakannya dengan komunitas lain. Paling tidak kita mengetahui ada banyak kebaikan universal di dalamnya. Di sini seorang Sufi tetap bisa menunjukkan dirinya di atas kebaikan universal itu, tanpa terjebak pada sentimen fragmentaris pragmatis yang dilakukan sebagian orang (oknum).

Baca juga: Meneladani Sikap Politik Kaum Sufi

Tarekat: Politik Perenial

Masalah hati sangat krusial. Lisan mungkin tidak menghina, perbuatan mungkin tidak menganiaya, namun hatinya (pikirannya) bisa sangat dzalim. Lisan bisa jadi menolak, hati menerima. Lisan bisa jadi memaafkan, namun hati mendendam. Maka, hati yang seharusnya dididik, dibina,!dan dikendalikan ketimbang yang lainnya.

Tanpa kebaikan hati, ucapan manis adalah retorika. Perbuatan baik adalah pura-pura. Persis seperti suami istri sedang cekcok, lalu kedatangan tamu, dan untuk sesaat mereka pura-pura berdamai. Setelah tamu berlalu. Mereka pun cekcok kembali.

Politik milenial itu adalah terus-menerus mensiasati diri agar menjadi lebih baik melalui proses mujahadah diri, makrifat diri, muraqabah diri, musyahadah diri, sehingga proses semuanya tadi terlepas dari sebab-sebab (asbab) dan kemudian menetap (baqa’). Pangersa Abah Anom (1990: 313) menyebut hal ini sebagai perjuangan tanpa akhir (la ghayah wa la muntaha).


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi