Tarekat Dzikir Membentuk Politik Perenial

Politik adalah kepedulian Rabb, sehingga Dia pun turun terlibat untuk berpolitik

Politik perenial lebih melihat ke dalam hati (qalb) ketimbang keluar (fi’l mukallaf). Partai politik itu ada di dalam dirinya, ada partai setan, partai nafsu dan partai Allah. Demi memenangkan partai Allah, dia harus berbuat baik secara kaffah yakni kebaikan ruhaniah yakni kebaikan tauhid.

Terdapat sistem birokrasi ruhaniah yang berlapis-lapis menuju Ahad. Termanya: Islam, iman, hingga ihsan. Aktivitasnya: ruh jismani, ruh rawani, ruh sulthani, hingga ruh qudsi. Institusinya: mulki, malakut, jabarut, hingga lahut. Akalnya: maa’syi, ma’adi, ruhani, dan kulli. Indikatornya: dari banyak ingatan (1000 hijab) hingga tunggal ingatan (fana’ hingga baqa’).

Alat untuk mendapatkan kebaikan ruhaniah (sa’adah qudsiyyah) adalah dzikir kepada Allah. Pangersa Abah Anom (1990: 308) menyatakan tingkatan dzikir, yaitu dzikir jahr, dzikir khafi takalluf (dipaksakan), dzikir khafi thab’ (kebiasaan), dan dzikir sirr (dzikir hudhur).

Baca juga: Bagaimana Sikap Ikhwan Menghadapi Tahun Politik

Apabila proses-proses birokrasi tadi diselenggarakan dengan benar sesuai dengan kaidah dan pedomannya, maka janji-janji akan kebaikan ruhaniah (cahaya di atas cahaya) akan dapat diperoleh setiap Sufi. Jasadnya berpijak di bumi dengan segala kesalehan syariat (politik), ruhnya tenggelam di arsy diri terdalam. Pengendalian diri menjadi sangat kuat, kesadaran batin menjadi sangat besar. Sesungguhnya sistem politik apapun akan bisa menjadi baik selama orang-orang yang ada di dalamnya memiliki sistem diri yang baik. Politik nasional harusnya refleksi dari politik perenial. Semoga. []

Oleh: Teten Jalaludin Hayat yang dimuat dalam Sinthoris edisi Januari 2019 M – Jumadil Ula 1440 H


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi