Imam Junaid Mengkritik Pemalas Yang Mengaku Sufi
Makrifat bukan alasan meninggalkan syariat, ibadah, dan tanggung jawab hidup
Imam Junaid Al Baghdadi menegaskan bahwa tasawuf ditegakkan berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Maka siapa yang menempuh jalan kesufian tidak bisa dilepaskan dari berpegang teguh kepada keduanya.
Dengan kalimat lain, menjadi sufi berarti juga terikat dengan ketentuan syariat, bukan sebaliknya. Ustadz Halim Ambiya mengatakan orang yang disebut sufi dan ahli makrifat itu bukan orang yang merasa dekat kepada Allah lalu malas menjalankan syariat dan kehidupan sehari-hari layaknya orang normal yang bekerja dan berusaha.
Baca juga: Apa Bisa Dengan Bertarekat Etos Kerja Meningkat
Menurut pendiri Tasawuf Underground ini, meniti laku suluk bukanlah meninggalkan tugas kehambaan yang lain seperti mencari nafkah untuk keluarga, mendidik dan mengasuh anak.
Memahami makrifat bukan berarti menjadi pemalas dan anti syariat. Tapi, justru, kata murid dari pangersa KH. Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhan, ma’rifat itu terpancar ketakwaannya kepada Allah secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, sufi dan ahli makrifat merupakan orang-orang yang memiliki semangat beramal ibadah dan memiliki etos kerja yang tinggi. Orang yang malas tapi mengatasnamakan sufi justru dikritik oleh Imam Junaid al-Baghdadi.
Sebagaimana disebutkan Abul Qasim Al-Qusyairi dalam Kitab Ar-Risalatul Qusyairiyyah yang menjelaskan tentang konsep sufistik Imam Junaid Al-Baghdadi.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

