Spiritualitas Pengorbanan Yang Membahagiakan
Jika kehidupan yang pertama yang kita pilih, maka kehidupan kita tak ubahnya hewan
Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33).
Bukan hanya nabi, bahkan dalam kaidah-kaidah kehidupan orang besar di setiap lapis zaman, penjara memiliki makna yang unik, berbeda dan kelak menyejarah.
Kita mulai dari Ibnu Taimiyah. Bagi beliau, penjara tak ubahnya surga. Di sana, beliau memiliki kesempatan tak terbatas untuk selalu ‘berdua’ dengan Allah-nya. Ungkapan beliau yang sering dikutip, kurang lebih bermakna, “Bahwa surga, kebahagiaan, adanya di dalam hati.” Sehingga, selama hati selalu lapang, dekat dengan Allah Sang Pencipta, tak berartilah semua masalah terkait dunia yang remeh-temeh ini.
Menurut seorang sufi al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Buya HAMKA, bahagia tiap-tiap sesuatu adalah bila dirasai nikmat kelezatannya dan kelezatan itu adalah menurut tabi’at kejadian masing-masing. Sedangkan kelezatan hati adalah teguh ma’rifat kepada Allah SWT, karena hati dijadikan untuk mengingat Allah SWT dan itulah kebahagiaan sejati.
Selanjutnya, ada Sayyid Quthb. Pemikir Islam yang sempat melalang buana di Negeri Paman Sam ini, akhirnya menemukan pelabuhan hatinya pada Islam yang mulia. Karena vokalnya beliau dalam menentang segala macam pemikiran yang menentang Islam, beliau dipenjara oleh rezim keji Mesir kala itu.
Quthb yang dipenjara, tak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Bayangkan, bagaimana bisa, seseorang yang dipenjara sanggup menyelesaikan tafsir yang kemudian menjadi monumental di sepanjang zaman? Kapan menulisnya? Kertas dan tintaya dari mana? Apakah ada penerangan yang cukup? Bagaimana untuk hunting informasi? Dan, seterusnya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

