Muruah, Inti dari Akhlak Yang Mulia
Kata ini digunakan setelah terjadi asimilasi budaya antara budaya Islam dan budaya Nusantara
Muruah pada hakikatnya merupakan inti dari akhlak yang mulia karena muruah mencakup seluruh sikap yang baik yang ditunjukkan oleh seseorang, yang menghasilkan manfaat yang dirasakan tidak hanya oleh yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang lain.
Muruah mengandung nilai kesopanan yang baik dan menunjukkan kesempurnaan manusia. Ia akan mendatangkan kehormatan dan rasa hormat orang lain terhadap seseorang yang memiliki sifat muruah.
Syekh Masyhur ibn Hasan Ali Sulaiman dalam bukunya Al-Muru’ah wa Khawarimuha, hal. 41, mengatakan bahwa, “orang yang memiliki muruah akan dihormati walaupun ia bukan orang yang berada. Ia akan disegani laksana singa yang ditakuti, walaupun sedang diam. Orang yang tidak memiliki muruah ia akan dihina, walaupun ia adalah orang yang berada. Ia laksana anjing yang terhina, walaupun ia dikalungi dan dihiasi dengan emas.”
Baca juga: Tiga Akhlak Utama Pengamal Tarekat
Al-Jurjani, dalam bukunya Al-Ta’rifat, hal. 111, mengatakan bahwa, “muruah adalah kekuatan jiwa dan sumber bagi perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan pujian menurut syara’, akal, dan adat kebiasaan.”
Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa muruah adalah berpegangnya jiwa manusia pada sifat-sifat kemanusiaan yang menjadikannya berbeda dengan hewan yang tidak berakal dan setan yang terkutuk. Di dalam diri manusia ada tiga pendorong yang saling tarik-menarik antara satu sama lain, yaitu:
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

