Tiga Akhlak Utama Pengamal Tarekat

Dalam Fathul Bari’, diriwayatkan dari Ja’far as Shadiq, dia berkata, bahwa tidak ada ayat di dalam Al Qur’an yang paling menghimpun keutamaan akhlak dari ayat ini,

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. [Surah Al-A`râf: 199].

Akhlak bisa dilihat dari tiga aspek, sesuai dengan daya manusia (al quwwah al insaniyah), yakni ‘aqliyah, syahwatiyah dan ghadabiyah.

Akhlak dari segi aqliyah, adalah hikmah (kebijaksanaan) diantaranya akhlak dengan melakukan amar ma’ruf. Dari segi syahwatiyah, ialah ‘iffah (jaga kesucian diri), salah satu akhlaknya ialah memaafkan. Adapun dari segi ghadabiyah, yaitu syaja’ah (keberanian), di antara bentuk akhlak ini ialah dengan berpaling dari orang-orang bodoh.

Terkait ayat tersebut, dari Abdullah bin Zubair, dia berkata: Allah Swt memerintahkan nabi-Nya Saw untuk memaafkan akhlak (ucapan dan perilaku) orang-orang.

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي بِفَوَاضِلِ الْأَعْمَالِ. فَقَالَ : ” يَا عُقْبَةُ، صِلْ مَنْ قَطَعَكَ، وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ، وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

Dari ‘Uqbah bin Amir, dia berkata: Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, amalan yang paling utama. Nabi menjawab: Wahai ‘Uqbah, sambunglah orang yang memutusmu, berikan orang yang enggan memberi padamu, dan tinggalkanlah orang yang menzalimimu. (HR. Ahmad).

Baca juga: Tasawuf Wujud Akhlak Sahabat Tabi’in dan Salafus Salih

Menghias diri dengan akhlak yang mulia adalah buah dari ikhlas ibadah kepada Allah Swt. Imam Qurthubi menyebut bahwa ayat ini punya tiga pesan yang mencakup di dalamnya kaidah-kaidah syariat menyangkut perintah dan larangan-Nya.

Dalam tafsir Al Washit dijelaskan, bagaimana mengaktualisasikan akhlak tersebut. Pertama, khudzil ‘afwa, yakni menyambung orang-orang yang memutus tali hubungan denganmu, kemudian memaafkan para pendosa, dan berlaku lemah lembut kepada orang-orang beriman serta akhlak baik lainnya.

Kedua, wa’mur bil’urfi, yaitu menyambung silaturahim, bertaqwa kepada Allah dalam urusan halal-haram, menahan pandangan, dan mempersiapkan bekal untuk hari akhir.

Ketiga, wa a’ridh ‘anil jahilin, adalah anjuran untuk memperkaitkan segala sesuatu dengan ilmu, berpaling dari orang yang berbuat zalim, menghindari perdebatan dengan orang bodoh, menyamai orang pandir dan dungu, serta berakhlak mulia dan perbuatan bijak lainnya.

Baca juga: Apa Sih Bekal Terbaik Bagi Anak

Ketiga akhlak utama ini adalah cermin bagi seorang pengamal tasawuf. karena Sayyidut Thaifah, Imam Junaid al Baghdadi menegaskan bahwa tasawuf itu sejatinya adalah akhlak.

التصوف استعمال كل خلق سني ، وترك كل خلق دني

Tasawuf adalah penggunaan setiap akhlak yang mulia dan meninggalkan setiap akhlak yang hina.

Kemudian, akhlak mulia tersebut diuraikan dan diterjemahkan dengan baik agar bisa diamalkan oleh Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dalam untaian mutiara.

  1. Jangan membenci kepada ulama yang sejaman
  2. Jangan menyalahkan kepada pengajaran orang lain
  3. Jangan memeriksa murid orang lain
  4. Jangan mengubah sikap walau disakiti orang
  5. Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu
Rekomendasi