Mengatasi Bisikan Setan, Perspektif Sufi dalam Tafsir Ibnu ‘Ajibah
Bisikan setan tak hilang tanpa zikir dan bimbingan guru ruhani (suhbatul arifin)
Syekh Ibnu ‘Ajibah dalam tafsirnya Al Bahrul Madid fi Tafsir Al Quran Al Majid ketika menjelaskan ayat 4-5 surah An Nas,
dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, [Surat An-Nas: 4-5]
Al-waswas yaitu yang membisikkan (setan). Kata waswas adalah bentuk mashdar tetapi bermakna pelaku. Disebut demikian seakan-akan dia adalah wujud dari bisikan itu sendiri. Adapun sifat setan “al-khannas” karena kebiasaannya bersembunyi dan mundur, yakni ia menyingkir ketika manusia mengingat Tuhannya.
Sementara ayat berikutnya, “Yang membisikkan ke dalam dada manusia”, yaitu setan membisikkan ketika mereka lalai dari mengingat Allah. Dalam ayat tersebut tidak dikatakan membisikkan “di dalam qalbu manusia” karena tempat setan adalah dada; tetapi ia menjulurkan “paruhnya” ke arah qalbu.
Sedangkan qalbu adalah “rumah Tuhan (bait ar rabb)” yang merupakan tempat iman, sehingga setan tidak mudah untuk menguasai qalbu sepenuhnya. Setan hanya berputar/berkeliaran di sekitar qalbu dalam dada. Seandainya setan mampu menguasai qalbu sepenuhnya, niscaya ia akan merusak iman seluruh manusia.
Ibnu ‘Ajibah yang dikenal sebagai ulama, mufassir, dan waliyullah menyatakan bahwa bisikan setan itu ada bermacam-macam. Di antaranya: ada bisikan yang bisa merusak iman dan menimbulkan keraguan (tasykik) dalam akidah. Jika tidak mampu membuat yang demikian, setan akan melemahkan seseorang dari ketaatan. Jika tidak mampu juga, ia akan memasukkan riya dalam ibadah sehingga amalnya sia-sia. Jika seseorang selamat dari itu semua, setan akan menanamkan rasa ujub (bangga diri) dan ia merasa besar dengan amalnya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

