Kiai Athorid Siraj: Inti Thariqah Adalah Mursyid

“Inti daripada thariqah adalah Mursyid,” demikian ungkap KH. Athorid Siraj, Wakil Talqin KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin pada khidmah ilmiah dalam acara manaqib di Jakarta.

Thariqah itu tergantung Guru Mursyidnya, jika mursyidnya tidak kamil mukammil akan mempengaruhi terhadap amaliahnya itu sendiri.

Kiai Athorid mengatakan, orang yang tidak memiliki Guru Mursyid adalah fahuwa ‘ashin billah wa rasulih, orang yang durhaka (bermaksiat) kepada Allah Swt dan rasul-Nya.

Karena tidak ada orang yang bisa membersihkan dirinya sendiri, menyucikan dirinya sendiri kecuali dengan Guru Mursyid. Maka Mursyid menjadi inti daripada thariqah.

Baca juga: Kiai Athorid Siraj Beberkan Empat Karamah Murid TQN Saat Manaqib di Suryalaya

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Kautsar Pamekasan, Madura ini, Mursyid adalah sullamul murid, tangga daripada seorang murid dan babu hadhratillah atau pintu menuju Allah Swt.

Kiai Athorid memberi penjelasan orang yang bertarekat dan yang tidak. Kalau kita menuju Allah mestinya melalui Guru Mursyid. Berbeda dengan orang yang tidak bertarekat, otomatis maka dzikirnya sampai di lisan saja atau dzikrullisan tanpa ada peningkatan atau kenaikan.

“Kalau memiliki Guru Mursyid maka akan meningkat dzikirnya itu menjadi dzikrun nafsi, menjadi dzikrul qalbi, menjadi dzikrur ruhi, menjadi dzikrus sirri. Cara sampai kepada Allah seperti itu,” jelas alumni Lirboyo tersebut.

Kiai Athorid Siraj juga mengutip Ibnu ‘Ajibah dalam Iqadzul Himam Syarh Al Hikam Ibnu Atha’illah As Sakandary yang menjelaskan,

وصولك إلى الله وصولك إلى عارف به إنما هو وصولك إلى الله

Sampainya seorang salik itu kepada ‘Arif billah (Guru Mursyid) hakikatnya dia sampai kepada Allah Swt.

Baca juga: Talqin Alat Untuk Wushul Kepada Allah

“Jadi kita yang sudah bermursyid tolong dipelihara, jangan sampai terputus. Karena apa? Hakikatnya juga sampai kepada Allah Swt,” tuturnya.

Sedangkan tanpa bermursyid seseorang bisa tersesat atau nyasar walaupun sudah memiliki maps yang jelas.

Lalu bagaimana cara untuk wushul kepada Allah? Pertama as shuhbah, yakni kebersamaan bersama Guru Mursyid baik secara dzahir dan batin.

وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah: 119).

Tafsir Ar Razi mengungkapkan, bersamalah kamu dengan as shadiqin hissiyan wa ma’nawiyyan, jadi as shuhbah secara fisik dan secara ruhani.

Terkait dengan shuhbah ini, Wakil Talqin yang diangkat Pangersa Abah Anom pada tahun 2008 ini juga menyampaikan bahwa

من حسنت خذمته وجبت كرامته

Siapa yang baik khidmahnya (kepada Guru Mursyid), berhak baginya memperoleh karamah

Selain itu, dikatakan bahwa orang yang berguru itu hendaknya seperti mayit di tangan orang yang memandikan. Ini bagian dari as shuhbah. Lalu seperti apa Guru Mursyid yang kita bershuhbah padanya?

ينهضك حاله ويدلك على الله مقاله

Yang membangkitkan kondisi ruhanimu dan ucapannya menunjukkanmu kepada Allah

Baca juga: Pengamal Tarekat Menghidupkan Sunnah Nabi Saw

Kedua, ribthus syaikh, atau keterkaitan dengan Guru Mursyid setiap saat di mana pun berada. Adapun yang dimaksud Rabhitah kepada Guru ialah,

تعلق القلب على وجه المحبة

Terpautnya qalbu dengan guru atas dasar cinta kepadanya.

Ketiga at tawajjuh. Tawajjuh itu asra’u bil fathi yaitu lebih memungkinkan untuk terbuka (futuh).

Mangkanya tawajjuh kita masih sebentar, maka Kiai Atharid menganjurkan kepada ikhwan akhwat untuk tawajjuh lebih banyak terutama di tengah kondisi carut marut. Karena dengan tawajjuh itu seseorang lebih cepat memperoleh futuh, menyatukan hati kepada Allah.

Keempat, dawamudz dzikri (istiqamah berdzikir). “Dengan dzikir yang banyak akan menyampaikan kita kepada Allah Swt. Sedangkan laa ilaaha illallah itu sudah menjadi makna pokok dari hati kita. Jadi menggunakan bawah sadar kita, hingga terasa kita berdzikir. Semoga kita istiqamah dan husnul khatimah,” pungkasnya.

Rekomendasi