Kekuatan Jujur, Belajar dari Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani

Semakin baik kualitas ketakwaan seseorang maka akan semakin jujur seseorang

Dari beberapa ayat di atas, kata jujur dikaitkan dengan kata takwa. Ini mengandung makna bahwa kejujuran bisa lahir karena ketakwaan. Semakin baik kualitas ketakwaan seseorang maka akan semakin jujur seseorang. Jujur menjadi ciri bahwa seseorang beriman kepada Allah Swt.

اِنَّمَا يَفۡتَرِى الۡـكَذِبَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ​ۚ وَاُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡكٰذِبُوۡنَ‏

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta (QS. An-Nahl: 105).

Bagi umat Islam, baginda Muhammad, Rasulullah Saw adalah teladan kejujuran, karenanya beliau diberi gelar al Amin. Melalui sifat kejujurannya, Rasulullah dapat mengubah akhlak buruk seseorang menjadi akhlak baik.

Baca juga: Urgensi Memohon Ash Shirath Al Mustaqim

Alkisah, pada zaman Rasulullah Saw ada seorang pemuda yang suka berbuat maksiat. Dia suka mabuk, berjudi, berzina, dan membunuh. Suatu hari terbesit dalam dirinya ingin bertobat kepada Allah Swt, lalu dia menemui Rasulullah Saw. Kemudian dia berkata, “Ya Rasulullah aku ini tukang mabuk, zina, berjudi dan membunuh. Apakah masih bisa diampuni oleh Allah Swt?”

Rasulullah Saw menjawab, tidak ada dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt, karena Allah Maha Pengampun. Kemudian orang itu berkata, “Ya Rasulullah saya mau bertobat kepada Allah, tapi saya belum bisa meninggalkan maksiat. Bagaimana caranya ya Rasulullah?”

Rasul menjawab, cukup bagimu jujur dan tidak bohong. Lalu dia berpikir, kalau begitu ternyata Islam itu mudah.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi