Hikmah Dzikir Jahr dalam Tinjauan Tafsir dan Hadits Nabi (II)

QS. Al-Ahzab (33): 41, ditegaskan tentang keharusan berdzikir atau mengingat Allah

Orang puasa waktunya sama, dari terbitnya fajar shidiq sampai terbenamnya matahari. Larangannya juga sama, tidak boleh makan, minum dan berhubungan badan di siang hari. Yang membedakan orang yang berpuasa adalah kuantitas dan kualitas dzikirnya. Ada yang puasa, banyak tidur. Alasannya, tidurnya orang yang puasa adalah ibadah. Benar. Tidur aman dari berghibah, berdusta dan perbuatan sia-sia lainnya. Namun, yang lebih utama adalah yang mengisi waktu-waktu saat puasanya dengan memperbanyak dzikir. Makin banyak dzikirnya, maka pahala puasanya makin banyak.

Orang yang menunaikan ibadah haji juga sama. Tempat ibadah hajinya sama di Mekah dan Madinah. Waktunya sama, yaitu pada bulan haji. Yang membedakan orang yang menunaikan ibadah haji antara satu dengan lainnya ialah banyaknya dzikirnya. Ada orang yang menunaikan ibadah haji banyak istirahat dan shopping dan ada juga yang menunaikan ibadah haji dengan banyak berdzikir.

Kelima, banyak dzikir merupakan salah satu cara untuk mendapat ampunan Allah dan pahala yang besar

Baca juga: Memimpin Dzikir Bagi Yang Belum Talqin dan Menambahkan Tawassul Saat Ziarah

Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Ahzab (33): 35, Allah menyediakan ampunan dan pahala besar kepada orang yang melakukan sepuluh hal, yaitu: muslim, beriman, taat, benar, sabar, khusyu’, bersedekah, berpuasa, menjaga kemaluan dan banyak berdzikir.

Adapun dzikir yang paling utama ialah dzikir la ilaha illa Allah. Dari Jabir ra, Rasulullah Saw bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah la ilaha illa Allah.” (HR. Tirmidzi). Oleh karena itu, para ahli ma’rifat dan tasawuf selalu istiqamah menjaga kalimat thayyibah dalam dzikir-dzikir mereka dibandingkan dengan bacaan-bacaan lainnya. Mereka menyuruh murid-muridnya mengucapkan kalimat ini sebanyak-banyaknya karena telah terbukti faedah-fedahnya yang tidak terdapat pada dzikir yang lain.

Dikisahkan Syekh Ulwan ra, seorang ulama dan guru yang luas ilmunya datang dan berguru kepada Sayyid Ali bin Maimun Maghribi ra secara khusus. Sayyid Ali menganjurkan kepadanya agar meninggalkan semua pekerjaannya dan hanya tawajjuh kepada dzikir. Ketika masyarakat mengetahui ini, mereka mengejek dan menentangnya serta menuduh telah merugikan dan menyia-nyiakan ilmu Syekh Ulwan ra.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi