Memimpin Dzikir Bagi Yang Belum Talqin dan Menambahkan Tawassul Saat Ziarah

Bolehkah ikhwan TQN yang masih awam terutama menyangkut ke-TQN-an memandu kegiatan dzikir jahr yang diajarkan TQN Pontren Suryalaya kepada keluarga yang belum menerima talqin dzikir?

H. Andhika Darmawan menyatakan boleh menjadi imam atau memimpin dzikir bagi keluarga yang belum talqin dzikir. Hanya saja syaratnya, imamnya atau yang memimpin dzikir sudah mendapat talqin dzikir.

Ustadz Andhika mengingatkan, boleh memimpin dzikir tapi tidak boleh mengajarkan tata cara dzikirnya atau dengan kata lain mempraktikkan seperti sedang melakukan talqin dzikir.

Baca juga: Amaliah Dzikir Belum Selesai Karena Ada Keperluan Apakah Mesti Mengulang Dari Awal

Lalu pertanyaan lain yang serupa ialah, apakah boleh kita memimpin bacaan dzikir khataman bagi mereka yang bukan ikhwan atau yang sudah menerima talqin dzikir TQN? “Boleh,” jawab ustadz Andhika yang merupakan Wakil Ketua LDTQN DKI Jakarta.

Pertanyaan lainnya ialah amalan TQN Suryalaya tidak boleh dikurang dan ditambah, namun untuk bacaan tawassul tahlil dan haul diperbolehkan, bagaimana penjelasannya?

Ustadz Andhika mengatakan bahwa tugas atau kewajiban (wadzifah) murid TQN ialah pada dzikir harian, dzikir mingguan (khataman), dzikir bulanan (manaqiban). Makanya tidak boleh ada penambahan dan pengurangan.

Baca juga: Apakah Dzikir Khatam Boleh Dilakukan di Luar Waktu yang Dianjurkan

Sedangkan tahlil, haul, ziarah bukan termasuk tugas (wadzifah) murid. Maka ketika murid ingin bertabarruk menggunakan amalan TQN Suryalaya dalam hal itu diperkenankan, serta dibolehkan untuk menambahkannya dengan bacaan lain saat tahlil, haul atau ziarah seperti yasin dan lain sebagainya.

Rekomendasi