Guru Adalah Pilar Negara, Bukan Beban Negara
Di balik ruang kelas sederhana, guru menyalakan harapan besar bagi masa depan bangsa
Dalam Islam, dikatakan, “tanpa guru kita tidak akan mampu mengenal Tuhan-Nya. Maka bagaimana mungkin guru disebut beban?”
Di tengah hiruk pikuk wacana publik, muncul pernyataan yang menyebut guru sebagai beban negara. Pernyataan ini jelas keliru dan menyesatkan. Guru bukan beban, melainkan pilar negara. Dari tangan merekalah lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap membangun peradaban. Setiap pejabat, ilmuwan, pengusaha, bahkan pemimpin negara, semuanya pernah duduk di bangku sekolah dan belajar dari seorang guru.
Sejarah pun membuktikan betapa vitalnya peran guru. Setelah Jepang luluh lantak akibat bom di Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Hirohito tidak menanyakan jumlah tentara yang tersisa atau kekuatan militer yang masih dimiliki. Ia justru bertanya, “Masih adakah guru di negeri ini?”
Baca juga: Tanbih Abah Sepuh, Warisan Akhlak Bagi Guru Sepanjang Zaman
Pertanyaan sederhana namun sarat makna itu menunjukkan bahwa sebesar apapun kerusakan sebuah bangsa, harapan kebangkitan tetap ada selama masih ada guru.
Hal yang sama pernah ditegaskan oleh pemimpin revolusi Vietnam, Ho Chi Minh, “Tidak ada guru maka tidak ada pendidikan. Tidak ada pendidikan maka tidak ada pembangunan ekonomi dan sosial.”
Kalimat ini menegaskan bahwa keberlangsungan pembangunan bangsa—baik di bidang ekonomi maupun sosial—selalu bermula dari hadirnya guru yang mendidik dan membimbing. Guru adalah pondasi yang menopang arah bangsa.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

