Dari Muharam ke Makrifat, Jalan Hijrah Bersama TQN
Tahun Baru Hijriah, saatnya hijrah batin lewat dzikir menuju ridha Allah SWT
Dalam konteks kekinian, hijrah bisa dimaknai sebagai upaya berpindah dari kesia-siaan menuju kebermanfaatan, dari kelalaian menuju dzikir, dari maksiat menuju taat. Hijrah sejati bukanlah fisik semata, tetapi batiniah.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Guru Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya, Pangersa Abah Anom RA, “Hayu urang hijrah ka Allah, sabab lega didinya mah, sagalana aya. Kabeh kagungan Pangeran.”
Namun, kita sering “hijrah” ke arah sebaliknya mengejar dunia, lupa tujuan hidup. Maka penting bagi kita mengenal Allah. Dan jalan itu, menurut ajaran TQN, adalah melalui dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi tenang, pikiran jernih, dan jalan hidup menjadi lebih terarah. Dzikir bukan hanya ritual, melainkan kunci hijrah spiritual.
Baca juga: Hijrah Transformatif, Dinamis dalam Bergerak
TQN Suryalaya telah mewariskan metode dzikir yang teratur dan terarah. Pangersa Abah bahkan menuntun teknisnya, “Kalimat Laa di tengah badan, Ilaaha di sebelah kanan, Ilallah ke kiri…”
Tujuannya agar setiap dzikir mengalirkan energi tauhid dan menutup pintu masuk syaithan ke dalam diri.
Dalam maklumat 1982, beliau juga mengajarkan adab berdzikir, dzikir jahar harus tartil dan fasih, dzikir sendirian cukup lirih, dan dzikir berjamaah minimal 165 kali. Semuanya sebagai bentuk keseriusan kita dalam berhijrah menuju Allah SWT.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

