Belajar dari Kisah Semut dan Nabi Sulaiman

Kita sering mendengar peribahasa, dimana ada gula di situ ada semut

Siapa yang tidak kenal makhluk yang satu ini. Ia selalu hadir ke tempat-tempat yang ada gula dan manis. Kita sering mendengar peribahasa, dimana ada gula di situ ada semut. Sebuah peribahasa yang menjelaskan sesuatu yang enak sehingga banyak yang ingin ikut menikmatinya.

Dilansir dari laman wikipedia.org semut adalah semua serangga anggota suku Formicidae, bangsa Hymenoptera. Semut memiliki lebih dari 12.500 jenis (spesies), yang sebagian besar hidup di kawasan tropika. Sebagian besar semut dikenal sebagai serangga sosial, dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur beranggotakan ribuan semut per koloni. Anggota koloni terbagi menjadi semut pekerja, semut pejantan dan ratu semut. Dimungkinkan pula terdapat kelompok semut penjaga. Satu koloni dapat menguasai daerah yang luas untuk mendukung kehidupan mereka.

Koloni semut kadang kala disebut “superorganisme” karena koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan. Meskipun ukuran tubuhnya yang relatif kecil, semut termasuk hewan terkuat di dunia.

Baca juga: Belajar Dari al-Fatihah Tujuh Ayat Yang Diulang-ulang

Semut jantan mampu menopang beban lima puluh kali dari berat badannya sendiri, bandingkan dengan gajah yang hanya mampu menopang beban dua kali dari berat badannya sendiri. Semut hanya tersaingi oleh kumbang badak yang mampu menopang beban dengan berat 850 kali berat badannya sendiri.

Dari sekian banyak makhluk yang Allah Swt ciptakan adalah semut. Karena keunikannya, semut diabadikan Allah Swt dalam al-Quran dengan nama surat al-Naml (surat ke-27). Dari makhluk ini, ada banyak hal yang dapat kita pelajari, satu diantaranya adalah sifat sabar dan syukur kepada Allah Swt.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi