Jadilah kita seperti yang sekarang ini. Tak hanya malas beribadah, kita bahkan masih nyaman dengan kemaksiatan. Barangkali qalbu berteriak menyesal, tapi ia seolah tak berdaya. Cahayanya redup. Daya sang hawa (nafsu) masih terlalu kuat untuk ditaklukkan.
Maka dinding qalbu harus dibersihkan, agar cahayanya kembali terang menyinari seluruh bagian tubuh ruhani kita. Seiring dengan ini, sedikit demi sedikit pengaruh hawa akan melemah. Pikiran pun akan terbebas dari kendalinya dan ikut tersinari terangnya cahaya qalbu.
Satu-satunya cara membersihkan kerak-kerak qalbu adalah dengan dzikrullah. Nabi saw bersabda: “Setiap sesuatu pasti memiliki alat pembersih, dan pembersih qolbu adalah dzikrullah.” (Hadits shahih marfu’).
Tentang tuntunan praktis bagaimana melakukannya, Beliau SAW pun bersabda: “Rasulullah saw bersabda, ‘perbaharuilah iman kalian.’ Lalu para sahabatnya bertanya, “bagaimana cara kami memperbaiki iman kami ya Rasulullah?’ beliau menjawab, ‘perbanyaklah mengucapkan Laa ilaaha ilallah. (HR. Ahmad).
Ibarat sebuah rumah di pinggir jalan, agar ia tetap bersih harus selalu dibersihkan setiap hari. Jika beberapa hari tidak dibersihkan rumah itu akan kotor. Begitu halnya dengan qalbu yang kotor, harus dibersihkan dengan dzikir yang terus-menerus karena terlampau lama tak dibersihkan.
Setiap langkah kita, setiap pandangan mata kita, adalah peluang maksiat bagi qalbu. Untuk itu dzikir harus senantiasa mengiringi gerak langkah dan setiap hembusan nafas. Jika kelak kita mampu melakukan ini, maka Allah akan menjaga kita dari setiap desir maksiat dan segala kelalaian duniawi lainnya. Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada ilâh kecuali Aku. Maka menghambalah kepada-Ku. Barang siapa datang kepada-Ku dengan syahadat Laa ilaaha ilallah dengan ikhlas, maka dia masuk ke dalam benteng-Ku. Dan barang siapa masuk ke dalam benteng-Ku, maka dia selamat dari azab-Ku” (HR. Ibn Nu’im).
Inilah mengapa para waliyullah menganggap ghaflah (lalai dari dzikir) sebagai dosa sehingga harus segera bertaubat. Ketika lalai berarti dia lepas dari penjagaan Allah. Artinya, pada saat itu ia berhadapan dengan ancaman hawa nafsu dan iblis. Sehingga para wali sudah bertaubat sejak maksiat itu masih berupa potensi.
Maka selama kita tak mampu menghidupkan dzikrullah dalam qalbu sebagaimana para kekasih Allah itu, selamanya kita digenggam nafsu dan Iblis. Selamanya kita dalam potensi bermaksiat. Kita ini lemah, sementara hawa nafsu dan Iblis begitu kuat dan tak terlihat. Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita mencari perlindungan? Dan kalau bukan kepada Allah, kepada siapa lagi kita berlindung?
Oleh: Cecep Zakarias El Bilad
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

