Taubat Sebelum Maksiat

Hikmah

Di antara hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini ialah, kita harus menjaga pikiran pada orang lain. Jangan mudah menaruh prasangka, karena hal itu dapat berpengaruh buruk terhadap semangat dan kualitas ibadah kita.

Sebagai seorang syaikh Mursyid, qalbu Syaikh Junaid sangat bersih. Sehingga sedikit saja kekeliruan dilakukan bisa terdeteksi dan akan langsung diingatkan Allah swt. Oleh karenanya bisa langsung bertaubat dan qalbu pun bersih kembali. Bagi seorang waliyullah, dosa kecil bagi orang awam adalah dosa besar bagi mereka.

Taubat mereka pun berbeda dari taubatnya orang awam. Mereka taubat bukan dari maksiat jasmani, karena itu sudah mampu mereka lampaui. Mereka sudah diingatkan Allah sejak maksiat masih berupa desiran qalbu. Taubat mereka adalah dari lupa mengingat Allah swt. Syaikh Dzun Nun al-Misri berkata: “Taubat orang awam adalah dari dosa dan taubat orang-orang khusus adalah dari ghaflah (lupa Allah).”

Qalbu ibarat cermin. Jika cermin itu bersih berkilau, sedikit saja debu menempel akan terlihat. Sebaliknya, jika cermin itu kotor dan buram oleh bermacam-macam noda, debu-debu yang menempel akan sulit terlihat dan nampak biasa oleh pandangan mata.

Dosa itu ibarat debu/noda yang menempel di dinding qalbu. Allah swt berfirman: “Sekali-kali tidak akan tetapi itulah rân yang menyelimuti hati mereka akibat apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Muthaffifin: 14)

Semakin banyak maksiat dilakukan, semakin banyak noda dosa menutupi dinding qalbu. Hari demi hari, bertahun-tahun menjadilah qalbu itu kotor. Cahayanya pun redup tertutupi noda-noda hitam yang menumpuk. Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-ran” yang Allah sebutkan (pada firman di atas). (HR. Tirmidhi, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban)

Nyatanya, yang kita lakukan sehari-hari jauh lebih “kotor” dari Syaikh Junaid dalam kisah ini. Jangankan ruhani, maksiat jasmani pun belum mampu kita atasi. Secara ruhani, qalbu kita sering tak terkontrol. Setiap hari kita berprasangka buruk pada orang lain. Kita dengki pada teman dan tetangga. Kita menyepelekan orang yang berkekurangan. Kita dendam pada orang yang menyinggung/menyakiti kita. Kita membenci dan menghina orang yang tak sependapat. Dan seterusnya.

Kita merasa diri paling utama. Kita mengejar setiap hasrat yang muncul. Kita membela harga diri yang terlecehkan. Kita membangun citra diri di depan orang lain. Untuk itu semua, kita lakukan apapun tanpa peduli perasaan dan kebaikan orang lain.

Ini semua-lah yang barangkali menyebabkan kita malas beribadah dan sulit khusu’ dalam berdzikir. Rasulullah saw memberi sebuah perumpamaan: “Jauhilah olehmu dengki, karena sesungguhnya dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar”. (HR. Abu Daud).

Dengki dan penyakit-penyakit ruhani sejenisnya membekaskan noda di dinding qalbu. Kian hari kian menumpuk. Dinding qalbu menjadi berkarat. Sinarnya meredup. Meredup pula-lah semangat ketaatan si pemiliknya. Buyarlah perhatiannya pada Allah, menjadilah ia malas dan akhirnya condong pada kemaksiatan.

Secara jasmaniah, dengan atau tanpa sadar kita pun sering berbuat dzolim. Kita berkata apa yang tak seharusnya dikatakan. Kita memandang apa yang tak berhak kita pandang. Kita memakan apa yang tak berhak kita makan. Kita mengambil apa yang bukan hak kita. Kita bersikap yang tak pantas pada orang lain. Dan seterusnya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi