Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (qs)

Saat berusia 18 tahun, syekh memohon kepada ibunya agar diizinkan untuk menuntut ilmu ke Baghdad. Baghdad saat itu adalah pusat kota ilmu yang terkenal. Banyak muslim dari berbagai penjuru dunia datang ke sana untuk belajar.

Begitu juga dengan syekh, berkeinginan keras menambah ilmu dan meningkatkan keruhaniannya dengan bergaul bersama para wali serta orang-orang suci di sana.

Selama belajar di Baghdad, syekh cepat menguasai beragam ilmu yang diajarkan kepadanya. Pada masa itu beliau membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar. Namun kerinduan ruhaniah yang mendalam selalu hadir dalam dirinya.

Baca juga: Penglihatan Syekh Tolhah Godebage Tempat Terbaik Kembangkan TQN

Syekh gemar mujahadah yakni penyaksian langsung akan segala kekuasaan dan keadilan Allah swt melalui mata batinnya. Beliau sering berpuasa dan tidak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makan.

Dalam masa pencarian inilah beliau bertemu dengan Syekh Hamad, seorang penjual sirup yang merupakan wali besar pada zamannya. Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhaninya.

Syekh Hamad sangat keras dalam mendidik Syekh Abdul Qadir. Syekh menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecatatan ruhaninya.

Syekh semakin keras menempa dirinya. Beliau mulai mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada shalat dan membaca Al-Quran.

Diriwayatkan pula, syekh kerap kali tamat membaca Al-Quran dalam satu malam. Selama latihan ruhani ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia sehingga beliau tidak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan syekh berkeliling di padang pasir.

Akhirnya syekh meningalkan Baghdad dan menetap di Syutsar, 12 hari perjalanan dari Baghdad.

Selama 11 tahun beliau menutup diri dari keramaian dunia. Akhirnya masa ini menandai berakhirnya latihan. Syekh menerima Nur yang dicarinya. Dari sifat kehewanannya kini telah digantikan dengan wujud mulianya.

Dalam Kitab Bahyatul Asror diterangkan syekh pertama kali memberikan ceramah pengajian di hadapan para ulama Baghdad pada hari Selasa, tanggal 6 Syawal tahun 521 Hijriyah.

Syekh mengawali pengajian dengan ungkapan sebagai berikut: “Pola pikir manusia diibaratkan para penyelam. Menyelam ke dasar lautan untuk mencari mutiara ma’rifat. Setelah diperoleh lalu muncul ke permukaan tepi pantai lautan samudera hati. Lalu para pialang melalui penerjemahnya menawarkan dagangannya, dan mereka membeli dengan nilai ketaatan dan ketakwaan yang baik.”

Pada pengajian pertama itu syekh menyampaikan firman Allah swt dalam QS An-Nur ayat 36, “Pelita itu dalam rumah-rumah (masjid) yang sudah diizinkan Allah Swt menghormati dan menyebut nama-Nya dalam rumah itu, serta bertasbih di dalamnya pagi dan petang”.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi