Puncak Idul Fithri, Kembali Baik, Benar dan Indah

Ketakwaan yang hendak diupayakan bukan hanya diperoleh dengan menjalankan ibadah ritual seperti shalat, puasa dan haji tapi juga ibadah terkait sosial dan kultural.

Yakni bagaimana kita menggunakan potensi kita untuk bermanfaat, bekerja sama membangun peradaban, mengelola sumber daya alam secara adil dan proporsional, menjaga kelestarian alam, merawat lingkungan, singkatnya menjaga keseimbangan alam dan keseimbangan sosial.

Sebab nilai ketaqwaan tak bisa diipisahkan dari adil. Dan inilah prinsip dasar dari akhlak islami.

ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. [Surah Al-Mā’idah: 8].

Jika adil adalah menempatkan segalanya sesuatu sesuai pada tempatnya. Maka sudah semestinya umat Islam menempatkan diri sebagai saudara. Saudara sesama makhluk, saudara sesama manusia, saudara sesama seagama dan saudara sebangsa dan setanah air.

Baca juga: Kesucian dan Tujuan Dzikrullah Menurut Abah Anom

Kita dan alam raya adalah saudara, maka jangan rusak alam dan lingkungan. Sesama manusia adalah saudara maka sayangilah saudara kita sebagaimana kita ingin disayangi.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya. (HR. Bukhari).

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Sayangilah orang yang ada di muka bumi, maka akan menyayangimu siapa yang di langit. (HR. Tirmidzi).

Dari sini kita dianjurkan untuk meninggalkan semua hal yang bisa merusak persaudaraan kita antar sesama umat Islam, sesama anak bangsa, dan sesama manusia, bahkan sesama makhluk Allah.

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman. [Surah Al-A’rāf: 85].

Hakikat Idul Fithri sejatinya adalah kembali ke fithrah. Fithrah salah satu maknanya adalah suci.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengatakan bahwa suci itu menurut para pakar terdiri dari tiga hal. Baik, benar, dan indah. Allah Maha suci, segala hal yang bersumber dari Allah baik, benar dan indah.

Baca juga: Pentingnya Mushafahah Saat Idul Fithri Menurut Abah Anom

Dalam konteks kita kembali kepada kesucian, mencari yang baik akan melahirkan akhlak, mencari yang benar akan melahirkan ilmu, mencari yang indah akan melahirkan seni.

Dengan demikian, puncak dari ber-Idul Fithri hendaklah menjadi pribadi yang berakhlak, berilmu dan berseni punya jiwa keindahan.

Mewujudkan hubungan yang baik, benar dan indah antar saudara serta mengantar aneka sumber daya alam sesuai tujuan penciptaannya adalah sikap yang diharapkan kehadirannya.

Sekali lagi hal ini mesti terus diupayakan secara berkesinambungan. Itulah sebabnya nabi punya fungsi untuk melakukan tazkiyah (penyucian) terhadap umatnya. Dan siapa yang melakukan proses penyucian jiwa pasti mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), [Surah Al-A’lā: 14].

Siapa saja yang menyucikan dirinya dari akhlak yang hina dan rendah serta mengikuti apa yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw dia akan memperoleh segala kebaikan, keberuntungan, kemenangan dan aneka hal yang bermanfaat.

Rekomendasi