Pangersa Abah Anom Tidak Mentalqin Ilmu

Dimana pun dan kapan pun berada adalah ibadah, karena ada dzikir yang hidup di dalam qalbu

Satu waktu, Buya Hamka, mengaku telah menyebarkan kalimat tauhid dalam perjalanan dakwahnya.

Pangersa Abah Anom hanya bertanya kepada Buya Hamka, bagaimana cara mengamalkannya? Barulah Buya Hamka menyadarinya, lalu meminta Pangersa Abah Anom untuk mengajarinya cara mengamalkannya.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (Surah Ibrāhīm: 24).

Dzikir yang ditalqinkan oleh Pangersa Abah Anom seperti digambarkan oleh ayat tersebut, akarnya kuat artinya tertanam menghujam ke dalam. Tidak mudah goyah menghadapi aneka goncangan.

Baca juga: Muballigh Itu Potret Abah di Lapangan Jaga Akhlak

Pohon yang baik tersebut dirawat akan tumbuh menjadi pohon yang sehat dan subur dengan cabangnya yang menjulang ke langit, berbuah al akhlakul karimah, aneka kebajikan dan manfaat sepanjang masa.

Wakil Talqin asal Bandung tersebut juga menyampaikan bahwa hormat itu lebih baik dari sekadar taat. Bukan hanya taat dalam mengamalkan dzikir harian, dzikir khataman dan manaqiban tapi juga merawat dan memupuk rasa hormat baik kepada Guru Agung maupun zuriahnya. []


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi