Mujahadah Terbaik dalam Perjalanan Menuju Allah Swt

Sejatinya semua manusia dalam perjalanan menuju Allah Swt. Dari Allah manusia berasal dan kepada-Nya lah tengah berjalan kembali. Sebagaimana firman Allah Swt

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (Al-Inshiqaq: 6).

Dalam Tafsir Al Washit disebutkan, al kadhu dalam ayat itu ialah usaha di dalam menempuh jalan untuk memperoleh sesuatu dengan sungguh-sungguh, kesungguhan hati, dan kerja keras.

Selama hidupnya, manusia berupaya sekuat tenaga dan sungguh-sungguh, menghabiskan waktu, daya dan upaya demi memperolah apa yang diharapkan dan dicita-citakannya. Tetapi tujuan akhirnya tetaplah perjumpaan dengan Tuhannya.

Allah Swt akan menghitung serta membalas segala amal manusia dan kerja kerasnya itu. Maka ayat ini mengajak agar segala kerja keras manusia di dunia itu sesuai dengan syariat-Nya dan amal perbuatannya itu termasuk amal salih.

Baca juga: Irabnya Qalbu Menurut Imam Ghazali

Dari sini, seyogyanya segala upaya manusia itu bagian dari taat kepada-Nya. Dengan begitu ia memperoleh balasan kebaikan dari Allah Swt serta ridha-Nya. Karena tidak ada yang luput dari-Nya sesuatu pun. Kebaikan ada ganjarannya, demikian juga keburukan.

Malaikat Jibril pun memberi pesan kepada Nabi Saw yang sebetulnya ditujukan juga untuk umatnya sampai akhir zaman.

قال جبريل يا محمد عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك ملاقيه

Jibril berpesan: Wahai Nabi Muhammad, hiduplah sesukamu, tapi ingat engkau akan mati, cintailah apa yang kamu suka, tapi ingat engkau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu, tapi ingat engkau akan menemui-Nya.

Lalu bagaimana kondisi orang yang kembali pada-Nya? Allah Swt berfirman:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ- ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. (Al-Fajr: 27- 28).

Dalam ayat ini Allah tidak memberi jalan kepada pembenci-Nya. Maksudnya, tidak termasuk kembali pada Allah jika ada kebencian dan tidak ridha kepada Allah Swt.

Baca juga: Tanpa Thariqah Agama Seseorang Tidak Sempurna

“Jika kamu ridha maka Allah memberi tambahan ridha-Nya, kamu akan diridhai-Nya,” demikian ucap Syekh Yusri Jabr Al Hasani.

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Nabi Saw bersabda: siapa yang ridha, maka dia mendapat ridha. Siapa yang murka maka dia mendapat murka (HR. Tirmidzi).

Allah akan memberi sesuai dengan keadaan. Kalau keadaaan kita ingin taat maka Allah menolong kita untuk taat kepadanya. Bahkan kalau kita ingin maksiat, dia akan menemukan yang diinginkannya.

يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ

Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (An-Nahl: 93).

Ayat tersebut juga bisa diartikan Dia menyesatkan siapa yang mau, dan memberi petunjuk kepada siapa yang mau. Karena Allah tidak berbuat dzalim kepada seorang pun.

Ini juga berarti, jika ingin hidayah, maka Allah akan kasih hidayah. Tapi jika ingin tersesat atau ingin durhaka, maka ia memperoleh apa yang diinginkan, karena Dia Maha Pemurah.

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا

Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (Al-Kahf: 49).

Tempuhlah jalan kembali pada Allah dalam keadaan ridha. Maksudnya ridha dengan ketentuan Allah dan keputusan-Nya. Ridha dengan syariat dan taqdir yang ditetapkan-Nya.

Orang yang demikian ini akan selalu tenang hidupnya, tidak takut pada apapun dan siapa pun. Sebab dia sadar sedang berada dalam genggaman Yang Maha Adil, Maha Kasih dan Maha Pengampun, yang tidak mendzalimi hamba-Nya.

Baca juga: Benarkah Mujahadah Hukumnya Fardhu ‘Ain

Kemudian, hal yang mutlak diperlukan untuk menempuh jalan menuju Allah Swt ialah mujahadah, mengolah jiwa dan mengendalikan hawa nafsu.

Namun, tanpa alat dan metode pasti akan payah manusia menempuh jalan itu. Bahkan boleh jadi bisa tersesat karena dikelabui oleh setan dan dorongan buruk dirinya sendiri.

Syekh Yazid al Busthami menyebut jalan menuju kepada Allah adalah jalan terjal mendaki. Maka mujahadah terbaik ialah dengan adanya guru Mursyid yang membimbingnya untuk menyucikan diri dan membersihkan aneka penyakit dan kotoran yang selama ini menghijabnya, menghambat dan menghalangi dari jalan menuju Allah Swt.

Rekomendasi
Komentar
Loading...