I’rabnya Qalbu Menurut Imam Ghazali

Qalbu secara bahasa berasal dari kata yang memiliki makna bolak balik. Itu sebabnya manusia sering kali berubah. Berkenaan dengan itu ummul mukminin Ummu Salamah membeberkan doa yang paling sering dibaca Rasulullah Saw.

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ : يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Doa beliau yang paling sering ialah Wahai Dzat yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku di atas agama-Mu (HR. Tirmidzi).

Doa tersebut juga memberi pengertian bahwa qalbu tidak selalu stabil dalam ketaatan. Qalbu terkadang condong untuk taat, kadang maksiat. Qalbu kadang ingat kepada Allah, kadang lalai kepada-Nya.

Baca juga: Guru Mursyid Ibarat Dokter yang Mengobati Penyakit Qalbu

Maka beliau Saw mengajarkan kita agar senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkannya qalbu pada agama yang diridhai Allah Swt, tidak melenceng dari agama yang haq dan shiratal mustaqim (jalan lebar yang lurus).

Karena qalbu yang bersifat fluktuatif. Imam Ghazali dalam karyanya Minhajul ‘Arifin memberi gambaran menyangkut gerak-gerik qalbu. Menurut pemikir Islam tersebut i’rab qalbu ada empat jenis, rafa’ (naik meningkat) fatah (terbuka), khafadh (turun), dan waqaf (berhenti).

Meningkatnya qalbu, kata cendekiawan muslim tersebut, ialah ketika dzikir mengingat Allah. Terbukanya qalbu ketika ridha terhadap (segala ketentuan) Allah Swt, dan turunnya qalbu ialah ketika sibuk dengan selain Allah ta’ala. Adapun matinya qalbu adalah saat lalai (ghaflah) dari Allah Swt.

Murid dari Imamul Haramain ini menyebutkan tiga tanda meningkatnya qalbu, pertama adanya kesesuaian (wujudul muwafaqah), kedua, tiada penyimpangan (faqdul mukhalafah) dan ketiga selalu rindu dan menaruh perhatian (dawamus syauq).

Sedangkan tanda dari terbukanya qalbu juga ada tiga, yakni tawakkal (at tawakkul), jujur dan benar (as shidq), serta yakin (al yaqin).

Baca juga: Kriteria Manusia Terbaik Banyak Dzikrullah

Adapun ciri dari turunnya qalbu menurut Hujjatul Islam tersebut, ialah angkuh dan bangga diri (‘ujb), pamer dan pura-pura (riya’), dan pelit yakni cinta dunia (mura’atud dunya).

Penulis Ihya Ulumuddin ini juga memberikan informasi menyangkut tanda matinya qalbu. Pertama hilangnya nikmat ketaatan, tidak merasakan pahitnya maksiat, bercampurnya yang halal (dengan yang haram).

Dengan informasi tersebut, kita bisa melakukan refleksi terhadap kondisi qalbu yang merupakan pusat ruhani manusia. Sehingga bisa mendeteksi sejak dini, apakah qalbu dalam keadaan baik atau sebaliknya.

Rekomendasi