Menuju Kesempurnaan

Setiap orang memiliki pandangan berbeda sesuai nilai anutan masing-masing

Tubuh dan Jiwa

Memulai perjalanan menuju puncak kemanusiaan tersebut tentu bukan perkara mudah. Namun, langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan mengenal dan memahami anatomi diri kita sendiri. Sebuah diktum sufi mengatakan:

“Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya“

Menurut Ibn Miskawaih dalam kitab Tahdzîb al-Akhlaq, manusia itu tersusun atas dua unsur, yakni tubuh (jism) dan jiwa (nafs). Tubuh ialah seperangkat sistem fisik yang ditempati manusia untuk menjalani kehidupannya di muka bumi dan melakukan berbagai aktifitas seperti makan, minum, berjalan, bekerja, tidur dan lain-lain. Untuk bisa bekerja, perangkat ini memiliki lima alat indera yaitu penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba dan pencium.

Sedangkan jiwa adalah unsur halus/gaib yang menempati tubuh. Jiwa berfungsi sebagai operator sekaligus kekuatan yang menggerakkan tubuh. Tanpa jiwa, tubuh hanya seonggok tulang-belulang berbungkus daging yang akan membusuk. Jiwa yang dimaksud Ibn Miskawaih ini adalah hakekat kemanusiaan itu sendiri. Dialah ‘aku’ pada setiap sosok manusia.

Jiwa terbagai atas tiga bagian: syahwat, amarah dan ‘aql (kesadaran). Yang pertama, syahwat (al-quwwah asy-syahwiyyah), disebut juga jiwa binatang. Jiwa ini merupakan penggerak aktifitas inti tubuh: pencernaan, pertumbuhan dan perkembangbiakan. Di sinilah sumber kenikmatan-kenikmatan inderawi seperti makan, minum dan senggama.

Yang kedua, amarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah), disebut juga jiwa nafsu binatang buas. Di sini tempat memancarnya keberanian, kemarahan, kebanggaan dan berbagai kebesaran dalam diri setiap orang. Inilah pendorong sekaligus penggerak manusia untuk bersaing satu sama lain memperebutkan kebutuhan dan keinginan hidupnya seperti keselamatan, kekayaan, jabatan, popularitas dan kejayaan.

Yang ketiga, kesadaran (al quwwah al nâthiqah), disebut juga jiwa rasional. Ia berperan sebagai sumber pemahaman, yaitu sumber kemampuan manusia untuk menciptakan apa yang namanya ‘pengetahuan’, dari pengetahuan tentang dirinya, lingkungan, alam semesta hingga Penciptanya. Di sinilah tepatnya letak ke-aku-an setiap manusia.

Pada setiap orang, ketiga jenis jiwa ini bersaing satu sama lain menjadi yang terdepan mengontrol gerak tubuh. Yang satu berusaha mengendalikan yang lainnya demi menuruti keinginan-keinginannya.

Ketiganya tumbuh dan berkembang seiring dengan perjalanan umur dan pertumbuhan fisik manusia. Yang pertama-tama tumbuh pesat secara alamiah adalah jiwa syahwat (an-nafs asy-syahwiy), yang merupakan potensi paling dasar manusia untuk bertahan hidup. Dia akan mengendalikan jiwa rasional dalam menuruti kecenderungan-kecenderungannya. Maka seorang bayi, misalnya, tanpa diajari pun akan langsung mengenal air susu dari puting ibunya sebagai makanan. Tanpa diajari pula, dia akan memasukkan apa saja yang dipegangnya ke dalam mulut. Dengan ‘bantuan’ jiwa rasional, jiwa syahwat menggerakkan anggota badan mencari apa saja untuk memuaskan hasrat-hasratnya. Ketika, usaha pemuasan hasratnya terhambat, ia akan mendorong jiwa amarah beraksi.

Saat tumbuh lebih dewasa, jiwa amarah kian berkembang pesat. Tumbuhlah dalam diri seseorang hasrat untuk berprestasi, unggul di antara lainnya, tampil hebat, punya banyak uang, dan lain-lain. Begitu pun dengan jiwa rasional tumbuh pesat. Saat itulah mulai nampak kecerdasan, kreatifitas dan intelektualitas seseorang.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi