Menuju Kesempurnaan

Setiap orang memiliki pandangan berbeda sesuai nilai anutan masing-masing

Namun begitu, masing-masing ketiga jiwa ini dapat dipacu atau dihambat perkembangannya. Pendidikan apa saja yang diterima seseorang sejak dini, baik di rumah, sekolah dan lingkungan lainnya, menentukan mana dari ketiganya yang lebih cepat berkembang, dan mana yang lambat.

Derajat Puncak

Jiwa rasional/kesadaran adalah jenis jiwa yang khas hanya dimiliki manusia. Sedangkan jiwa syahwat dan amarah dimiliki juga oleh hewan. Menurut Ibn Miskawaih, jiwa inilah yang menjadi sarana manusia untuk berjalan mencapai derajat tertinggi di antara ciptaan Allah.

Jiwa rasional memungkinkan manusia untuk bisa mengenal apa itu kebenaran dan kesalahan; apa itu kebaikan dan keburukan. Jiwa rasional menjadi pintu bagi masuknya berbagai jenis pengetahuan dan ajaran-ajaran kebenaran. Jiwa inilah yang menjadikan manusia sebagai mahluk terpilih untuk menerima ajaran Kebenaran Sejati (Wahyu). Sebuah pepatah bijak mengatakan: “Tidak ada agama bagi yang tidak berakal”.

Jika jiwa syahwat tumbuh subur dengan makan, minum, seks dan berbagai kenikmatan inderawi lainnya; jiwa amarah tumbuh besar dengan prestasi, tampil cantik/tampan, popularitas, jabatan dan berbagai jenis kebanggaan lahiriah lain; maka jiwa rasional dapat berkembang pesat dengan logika, pengetahuan/ilmu, dan ajaran-ajaran kebaikan. Untuk itu, jiwa rasional harus digembleng sedini mungkin, agar pertumbuhannya optimal dan pada jalur yang benar.

Di sinilah peran penting pendidikan. Lingkungan tempat seseorang tumbuh dewasa harus dapat memacu perkembangan jiwa rasional kea rah yang positif. Pendidikan tidak sebatas mengajarkan hal-hal kognitif untuk meningkatkan kecedasan intelektual dan prestasi akademik. Tetapi harus juga membangun pola berpikir yang benar (logis) dan menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Tidak berhenti di situ, pendidikan juga harus menanamkan dalam diri anak didik perilaku, sikap dan tutur kata yang komitmen pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang diajarkan itu. Ini akan menjadi benih-benih moralitas dalam diri anak. Pendidikan semacam ini perlu dijalankan tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam lingkungan keluarga dan tempat bermain.

Yang perlu ditanamkan misalnya adab berpakaian, berbicara, makan, berjalan, berkendaraan, bercanda, hingga yang ritual seperti shalat berjamaah, puasa dan berdzikir. Kemudian, sedikit demi sedikit mereka dibimbing untuk memahami alasan logis dan manfaat dari itu semua serta dampak negatifnya apabila disepelekan.

Kemudian, proses pendidikan harus pula memperkecil ruang tumbuh liarnya jiwa syahwat dan amarah sehingga akan bisa dikendalikan. Misalkan dengan pola hidup sederhana: tidak membiasakan anak-anak berada dalam kemewahan, pemborosan, kemalasan dan kemanjaan. Juga dengan pola hidup disiplin dan teratur. Sebelum dan selama pendidikan tersebut, orangtua dan segenap pendidik harus memberikan teladan.

Dengan begitu, akan tumbuh dalam dirinya kecintaan yang besar pada kebenaran dan moralitas. Dengan kemampuan mengendalikan jiwa syahwat dan amarah, jiwa rasional akan kuat mengarahkan kecenderungan syahwat dan amarah pada kebenaran dan moralitas.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi