Masjid Beradaptasi, Masjid Bertransformasi

Anak-anak merupakan calon pemimpin. Mereka yang akan melanjutkan perjuangan menegakkan kalimat Allah Swt dan melestarikan dakwah Rasulullah Saw.

Dunia mereka adalah bermain, wajah mereka adalah kegembiraan. Itu sebabnya, Rasulullah Saw menjadikan masjid sebagai tempat yang children friendly (ramah bagi anak-anak).

Pengalaman anak di masjid akan menjadi memori yang berkesan dan melekat kuat. Pengalaman saat kanak-kanak itu akan membentuk karakter dan kenangan saat dewasa nanti serta mempengaruhi jalan hidup mereka.

Demikian juga dengan remaja, masjid bisa menjadi option bagi mereka yang tidak masuk pesantren, tetapi punya keinginan untuk belajar Islam secara intensif. Karena masih minimnya masjid yang punya program untuk remaja atau generasi muda.

Padahal Indonesia sedang dalam masa bonus demografi. Di mana berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, dari 270,20 juta jiwa, komposisi penduduk Indonesia diisi oleh anak muda, 25,87 % milenial (lahir 1981-1996), 27,94 % gen z (lahir 1997-2012), 10,88 % post gen z (lahir mulai tahun 2013)

Itu sebabnya penting bagi kita semua mewujudkan masjid yang ramah dan menjadi mercusuar peradaban yang penuh rahmah (kasih sayang) di tengah-tengah masyarakat.

Dan semua itu akan tercermin dari program-program masjid. Sehingga masjid tidak hanya dimakmurkan tapi juga memakmurkan jama’ah dari berbagai kalangan atau generasi. Maka mau tidak mau, gap generation di masjid ini harus terus dipangkas.

Di masa pandemi ini, masjid dituntut untuk menghadapi tantangan yang tidak mudah, terutama dalam menjalankan fungsi dan perannya. Masjid dituntut untuk menerapan protokol kesehatan sekaligus mengkampanyekan hidup sehat secara lahir batin serta hidup yang ramah lingkungan.

Bagaimana caranya agar masjid menjadi pusat kesehatan mental dan spiritual masyarakat. Masjid berperan menjadi pusat edukasi pengasuhan anak dan keluarga sakinah. Masjid harus bertransformasi melayani kebutuhan umat, meski di tengah pandemi.

Fungsi Masjid Rasulullah

Karena sejak zaman Rasulullah, masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah. Tapi memiliki fungsi lain yang strategis untuk menyelesaikan problem masyarakat (problem solving) dan membangun peradaban.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Dan yang tak kalah penting, masjid jadi sarana edukasi untuk menyampaikan pesan dan menambatkan kesan untuk semua kalangan. Di sinilah fungsi dakwah dan fungsi pendidikan masjid.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., menyebutkan 20 fungsi masjid Nabi kala itu. Mulai dari rumah pertobatan, destinasi wisata rohani, tempat shalat berjama’ah, rumah ilmu pengetahuan, rumah tahanan, starting point perjalanan spiritual, hingga rumah interfaith dialogue.

Selain itu, masjid juga berfungsi sebagai basis pengembangan ekonomi mikro, centre of spiritual academic excellent, pusat pengabdian masyarakat, tempat mengungsi dan tawanan perang.

Bukan hanya itu, masjid juga digunakan untuk tempat latihan beladiri, tempat menikmati hiburan kesenian, tempat pengurusan jenazah, rumah pengadilan, balai pertemuan masyarakat, balai keterampilan, penginapan musafir, rumah sakit, hingga menara untuk meneropong ketimpangan sosial.

Prof. Dr. Hasoun Mufti Besar Syiria mengatakan: “Lebih utama menyampaikan ajaran Islam sehingga menyebabkan orang-orang untuk sujud (sajidin) daripada membangun beberapa masjid (masajid). Banyaknya masjid bukan jaminan terwujudnya umat ideal (khairu ummah). Jika kualitas dan kuantitas sujud para sajidin bertambah baik maka itu berbanding lurus terwujudnya khairu ummah dan peradaban Islam.”

Membangun Masjid, Membangun Kualitas Umat

Dalam konteks Indonesia, membangun masjid secara kuantitas harus diimbangi secara kualitas. Membangun masjid tak sekadar menambah jumlah tempat sujud, tetapi yang lebih penting dari itu ialah bagaimana meningkatkan kualitas yang sujud (sajidin).

Karena tak jarang, yang terjadi di lapangan justru pertumbuhan jumlah masjid di Indonesia tidak berbanding lurus dengan kualitas manusia yang sujud di dalamnya. Anehnya, banyaknya masjid tidak berbanding lurus dengan kualitas kehidupan umat dan peradaban Islam.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Sehingga bisa dipahami, mengapa Rasulullah Saw mengapresiasi siapa yang ikut berkontribusi dalam membangun masjid. Karena membangun masjid artinyamembangun kualitas umat.

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ” قَالَ بُكَيْرٌ : حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ : ” يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ “.

Siapa yang membangun masjid, dengan berharap ridha Allah Swt, maka Allah akan membangunkan baginya yang semisal di surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang lain disebutkan,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid yang digaungkan digaungkan dzikrullah di dalamnya, maka Allah akan membangun rumah untuknya di surga (Ibnu Majah dan An Nasai).

Bahkan secara khusus, Nabi memberi kabar bahwa ada orang-orang yang sangat mencintai masjid walaupun secara fisik ada di luar masjid termasuk salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari kiamat.

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ

Seseorang yang qalbunya terpaut dengan masjid (HR. Bukhari).

Artinya masjid idealnya bisa memberi pengaruh positif kepada seseorang sehingga mengantarnya menjadi pribadi yang pantas untuk mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Rekomendasi