Kiai Wahfi Bedah Manqabah Syekh Abdul Qadir

“Manqabah yang tadi kita dengarkan sama-sama, ada poin-poin yang menarik. Pertama bahwa Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam usianya yang masih sangat belia, umur 18 tahun sudah memiliki kegairahan yang tinggi untuk belajar, untuk menuntut ilmu,” ucap KH. Wahfiudin Sakam saat Khidmah Ilmiah dalam Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jilani qs yang diselenggarakan secara online pada Ahad (08/08).

Syekh Abdul Qadir dalam usia 18 tahun bersedia mengembara dari keluarganya dari ibu yang dicintainya. Beliau melakukan perjalanan jauh, menempuh aneka macam resiko, salah satunya perampokan.

Ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita para ikhwan dan akhwat, agar jangan terjebak pada ketenangan batin. Tetapi proses pencarian harus selalu dilakukan.

أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28).

Tidak salah jika Al Quran menyatakan sesungguhnya dengan dzikrullah maka qalbu akan menjadi tentram. Dan banyak orang yang dengan dzikir mendapatkan ketentraman personal. Karena qalbunya selalu ingat Allah, didapatlah ketentraman itu. Tidak ada rasa takut dan khawatir, tidak ada sepi dan risau, la khaufun ‘alaihim wa la hum yahzanun. Itu manfaat dari dzikrullah. Baca juga…

Tetapi Kiai Wahfi mengingatkan jangan sampai dengan ketentraman yang diperoleh melalui dzikir itu kemudian orang itu merasa puas diri, terjebak pada wilayah zona nyaman atau comfort zone. Lalu ia menjadi pasif, tidak mau lagi belajar menuntut ilmu, apalagi sampai harus melakukan pengorbanan dengan keluar duit misalnya. Enggan mengorbankan waktu, mengorbankan tenaga, mengorbankan kenikmatan chating dan bermedsos.

Wakil Talqin Abah Anom tersebut kemudian membaca ayat Al Qur’an surah Ali Imran ayat 185.

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. Kehidupan dunia adalah kenikmatan yang menenggelamkan, kenikmatan yang menghanyutkan. Hati-hati dengan dalih sudah banyak berdzikir, yang diperoleh adalah ketentraman dan dengan ketentraman lalu tidak mau lagi belajar,” imbuhnya.

Kiai Wahfi kemudian mengajak untuk bercermin pada sejarah. Pada tahun 1945 baik penjajah Belanda maupun penjajah Jepang karena situasi global waktu itu sudah harus memerdekakan negara-negara jajahannya.

Maka baik Belanda maupun Jepang memberikan tawaran kepada Indonesia untuk merdeka. Indonesia kemudia bersiap-siap dan dibentuklah BPUPKI. Dalam BPUPKI itu berkumpullah ulama-ulama Islam dan juga tokoh-tokoh dari kelompok lain.

“BPUPKI melakukan persidangan, dan salah satu yang dibahas dalam sidang itu adalah negara Indonesia yang akan kita dirikan nanti dasarnya apa? Maka terjadilah perdebatan, dari perdebatan tingkat ideologis, politik, hukum dan negara, hak asasi manusia dan lain-lain,” cerita Mantan Mudir Aam JATMAN tersebut.

Yang menarik, kata Kiai Wahfi adalah para ulama yang menjadi anggota BPUPKI itu terlibat membincangkan negara, sampai kemudian tersusunlah naskah UUD 1945 dan menjadi Undang Undang Dasar 1945.

“Itu pengaturan hidup kenegaraan yang menyangkut ideologi, politik, hukum, administrasi negara, ekonomi, dan sosiologi. Muncul pertanyaan, bukankah banyak kiai yang terlibat dalam sidang BPUPKI itu adalah kiai kiai pengasuh pesantren. Bukankah pesantren di waktu itu berada di daerah-daerah pelosok, yang jauh dari kemodernan,” ungkapnya.

Menurut Kiai Wahfi, para kiai bisa memiliki wawasan yang luas lantaran di dalam Pesantren ada tradisi ilmiah. Mereka membaca kitab-kitab dari ulama-ulama terdahulu. Mulai dari ilmu alat belajar nahwu shorof sampai kemudian belajar tentang ideologi politik dan filsafat. Meski di pelosok daerah, para kiai mempelajari buku-buku sosiologi Ibnu Khaldun, buku-buku politik dan kenegaraan seperti Al Ahkam As Sulthaniyah Al Mawardi, belajar filsafat Imam Ghazali dan lain-lain.

Lalu pertanyaannya, buat apa masyarakat di pondok pesantren mempelajari aneka ilmu dan memperluas wawasan? Apakah ilmu dan wawasan yang tinggi itu akan mampu diaplikasikan, bisa dimanfaatkan untuk masyarakat petani desa? Baca juga…

Kiai Wahfi melihat bahwa bukan soal ilmu itu akan bisa diimplementasikan, diterapkan atau tidak. Itu soal lain. Tetapi bahwa belajar adalah suatu kewajiban, itu yang mereka lakukan.

Jadi meskipun berada di pesantren yang berada di pelosok-pelosok pedesaan, kegiatan belajar, membaca kitab-kitab, mempelajari pemikiran-pemikiran tingkat tinggi terus dilakukan. Kenapa? karena belajar adalah suatu kewajiban yang inheren yakni kewajiban yang menyatu di dalam diri setiap muslim.

Yang kedua, mempelajari kitab-kitab, pemikiran-pemikiran ulama-ulama besar di zaman dahulu itu akan mendapatkan keberkahan, mendapatkan faidh (limpahan keberkahan) dari para ulama.

“Oleh sebab itu, Guru Mursyid kita yang mulia Syekh Abdul Qadir Al Jilani, rela berkorban berpisah dengan ibunya, dengan tanah kelahirannya. Berkorban meninggalkan kenikmatan duniawi, melakukan perjalanan jauh untuk belajar ke negeri Baghdad. Karena belajar dan menuntut ilmu itu kewajiban syar’i, kewajiban yang juga menyatu dengan eksistensi kita, keberadaan kita di muka bumi,” tutur Dewan Pakar LDTQN Pontren Suryalaya tersebut.

#manqabah #abdulqadir #wahfiudin

Rekomendasi
Komentar
Loading...