Indonesia Kurang Bahan Bacaan Bukan Malas Baca

Penguatan akses buku dan budaya literasi jadi fondasi kemajuan bangsa Indonesia

“Literasi adalah kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan yang dapat diimplementasikan” ujar Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Muhammad Syarif Bando, dalam Gemilang Perpustakaan Nasional Tahun 2021 yang digelar secara hybrid pada Selasa (14/09).

Namun di Indonesia yang terjadi adalah rendahnya budaya baca yang menyebabkan rendahnya indeks literasi. Dan hal ini memunculkan fakta sebagai berikut:

1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Rendah,
2. Daya Saing Global Indonesia Rendah
3. Indeks Inovasi Indonesia Rendah
4. Income Per Kapita Indonesia Rendah
5. Indeks Kebahagiaan Indonesia Rendah
6. Rasio Gini Indonesia Rendah

Maka, guna meningkatkan indeks literasi, menurut Syarif Bando, perlu ada penguatan sisi hulu. Menariknya, berdasarkan survei, Indonesia bukanlah negara dengan masyarakat yang minat bacanya rendah, namun masih adanya keterbatasan bahan bacaan untuk masyarakat.

Baca juga: Tips Mudah Agar Suka Membaca Buku

Berdasarkan hasil penelitian, rasio buku dengan jumlah penduduk masih 1:90. Artinya satu buku ditunggu 90 penduduk. Padahal, sesuai standar UNESCO idealnya Indonesia memerlukan tiga buku baru tiap orang tiap tahunnya.

Penguatan sisi hulu adalah peran negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, BUMN, TNI/POLRI), peran akademisi perguruan tinggi, peran pengarang/penerbit buku sesuai kebutuhan masyarakat (buku ilmu terapan, buku life skill, buku local content).


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi