Hijrah Transformatif, Dinamis dalam Bergerak

Seorang muslim dituntut untuk selalu dinamis dan tidak diam saja

Ulama menjelaskan bahwa waktu dan jam itu seperti modal bagi seorang pedagang. Dengan modal itu dia berniaga untuk mencari keuntungan. Tatkala semakin banyak modalnya tentu semakin banyak untungnya.

Maka siapa yang memanfaatkan umurnya untuk melakukan kebajikan dia sungguh beruntung dan berhasil. Sebaliknya, ketika dia mengabaikan dan menyia-nyiakan modalnya (waktu dan umurnya), dia tidak akan memiliki keuntungan bahkan menderita kerugian yang nyata.

Baca juga: Gerakan Wakaf Produktif, Tantangan Yang Harus Dijawab Kaum Tarekat

Dengan demikian, untuk menjadi manusia yang baik perlu konsisten dalam melakukan kebajikan dan ada perubahan dalam perilaku untuk selalu lebih baik.

Namun, kata seorang Psikolog, Asep Haerul Gani, pada dasarnya manusia itu senang di zona nyaman. Enggan untuk berubah, malas untuk bergerak, tidak mau capek untuk bergerak ke sana dan ke sini.

Baca juga: Yuk Hijrah Secara Growth Mindset

Maka jika hijrah dimaknai sebagai sebuah transformasi, perubahan perilaku dari buruk menjadi baik, atau baik menjadi lebih baik. Maka, untuk orang yang senang mager (malas gerak) hijrah akan dirasakan sebagai siksa dan sengsara bahkan malapetaka.

Oleh karena itu sejak awal manusia mesti menyadari bahwa sejatinya kita sedang dalam perjalanan menuju Allah Swt. Puncak dari perjalanan adalah kembali pada-Nya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi