Hati-hati! Kefakiran Dekat dengan Kekufuran

Seorang hamba wajib beriman kepada Allah dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya

Gus Nafis, biasa disapa, menambahkan bahwa seseorang tidak akan mencapai hakikat keimanan bila belum melihat kenikmatan dan bala itu sebagai media pengantar menuju Allah.

“Oleh karena itu jangan menilai Allah tidak adil kepada kita. Karena segala apa yang menimpa manusia yang beriman, hakikatnya itu menghantarkannya untuk sampai kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Hal seperti ini perlu diperhatikan,” imbuhnya.

Baca juga: Syekh Abdul Qadir: Meninggalkan Maksiat Lebih Prioritas dari Melakukan Taat

Jika ada orang yang masih mempertanyakan keputusan atau pun ketentuan Allah atas apa yang menimpa dirinya, berarti dia belum Ridha dengan qadha-Nya. Akan tetapi Ridha ini tidak mudah untuk diamalkan.

الرضا سرورُ القلب بمُرّ القضاء

Ridha adalah bahagianya qalbu menerima pahitnya ketentuan Allah Swt.

Dan kadang kala Allah menjadikan seseorang dalam kondisi pahit supaya dia mendapatkan derajat hakikat keimanan. Tingkat keimanan seorang pasti akan diuji, karena Allah menguji manusia siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.

Khadim Markaz Al Jilani Asia Tenggara ini menyebut segala hal yang terjadi di dunia ini merupakan takdir Allah. Tetapi di saat yang sama kita tidak meyakini sebagaimana yang diyakini orang yang berpaham jabbariyah karena itu berbahaya.

Mudir JATMAN DKI Jakarta itu juga berpesan agar ketika kita menghadapi berbagai masalah kosongkan pikiran dan hati dari segala sesuatu yang tidak Allah ridhai, agar kita selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi