Belajar dari Ormas Besar, LDTQN Mau Kemana?

Ini bukan lagi permainan tunggal, tetapi permainan tim, permainan kelompok, permainan bersama

NU pernah secara langsung terlibat dalam politik praktis, menjadi bermacam-macam partai NU, dan akibatnya menjadi bulan-bulanan dihajar oleh rezim-rezim penguasa, hingga akhirnya menyatakan diri “kembali ke Khittah 1926”. PBNU yang sekarang pun sudah menyatakan “berjarak yang sama dengan semua parpol”.

Secara sederhana, SDI/SI bangkit melalui bidang perdagangan dan politik. Muhammadiyah bertekun di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan. Berpolitik secara high politics. Keunggulannya pada sistem organisasi dan manajemen. Sedangkan NU bertumpu pada figur-figur ulama, komunitas santri, dan lembaga-lembaga pesantren. Pernah menjadi partai politik, jatuh bangun, dan sekarang kembali ke Khittah 1926. Kekuatan utamanya ada pada karisma ulama ASWAJA dan tradisi kaum santri.

Kesamaannya, ketiga organisasi itu bersifat kepeloporan dalam menghadapi penjajah/imperialis, baik yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat maupun Timur, bergulat secara intelektual dan spiritual menghadapi ideologi-ideologi Kapitalisme Liberalisme maupun Sosialisme Kapitalisme.

Baca juga: Sufi Itu Pelopor Kemajuan Umat

Lalu, LD-TQN mau ke mana?

Pertanyaan ini harus mulai dirumuskan jawabannya, ditegaskan misinya, dirumuskan strateginya, dikembangkan sistemnya, dan dibangun SDM-nya sejak sekarang. []

Oleh: KH. Wahfiudin Sakam Bahrum (Dewan Pakar LDTQN Pontren Suryalaya), Syracuse, 20 Agustus 2023


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi