Belajar dari Ormas Besar, LDTQN Mau Kemana?

Ini bukan lagi permainan tunggal, tetapi permainan tim, permainan kelompok, permainan bersama

Karena kelompok pedagang jumlahnya sedikit (masyarakat agraris lebih bertumpu pada pertanian) maka HOS Tjokroaminoto, ulama dan cendekiawan Islam yang bergabung belakangan, menghilangkan kata Dagang sehingga SDI menjadi SI (Sarekat Islam) pada tahun 1911. Dan selanjutnya SI menjadi organisasi politik Islam pertama di Nusantara.

Kelak SI terpecah, ada yang bercorak “merah” dengan mengadopsi pemikiran-pemikiran sosialisme dan bersikap konfrontatif dengan penjajah yang kapitalistik, ada yang mengambil sikap moderat karena menyadari ideologi Islam belum cukup kuat untuk melakukan perubahan sosial menghadapi kapitalisme.

2. Muhammadiyah

Sebagai perbandingan (benchmark), kekuatan ormas Muhammadiyah yang lahir tahun 1912 terletak pada sistem organisasinya. Yang sejak awal diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan adalah pragmatisme dalam beragama. Bagaimana mengamalkan surat al-Ma’un dalam bentuk praktis untuk menolong orang-orang miskin akibat penjajahan Belanda yang kemudian dikembangkan dengan membangun sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Sektor pangan, intelektual, dan kesehataan ditekuni sehingga Muhammadiyah menjadi sangat menonjol karya-karyanya di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan. Satu hal yang menarik dalam sejarahnya, secara organisasi Muhammadiyah selalu menjaga jarak dari politik praktis. Politik yang dimainkannya adalah high politics, politik tingkat tinggi di tataran ide, moral, dan kebijakan-kebijakan.

3. Nahdlatul Ulama (NU)

Ormas NU lahir tahun 1926. Bermula dari berkecamuknya gerakan Wahabi di Arab Saudi yang radikal dan takfiri, tawhid maniac, dan tidak ragu melakukan berbagai kerusakan fisik bahkan pembunuhan. Tanpa disadari, gerakan Wahabi adalah permainan intelijen dan politik negara-negara imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika, untuk menghancurkan Khilafah Utsmany yang berpusat di Turki.

Baca juga: Berhentilah Jadi Pemimpin “Dulu

Puncaknya ketika kaum Wahabi mau menghancurkan kubur Nabi Muhammad Saw karena dianggap menjadi penyebab Syirik, apalagi berada di dalam masjid. Para ulama di tanah Jawa (istilah Indonesia belum dikenal betul) mengirim delegasi Komite Hijaz untuk melakukan protes kepada raja Saudi. Protes diterima. Tetapi ulama Jawa menyadari bahayanya paham Salafi Wahabi (kami singkat SaWah) kalau sampai menyebar di tanah Jawa. Maka dibentuklah Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama) untuk memperkokoh ajaran ASWAJA (Ahlus Sunah Wal Jama’ah) di tengah umat. Puncak heroisme NU adalah ketika Mbah Hasyim Asy’ari ditangkap, dipukuli, dan dipenjara oleh tentara Jepang karena tidak mau melakukan sikap tunduk menghormati kepada bendera Jepang.

NU tumbuh dengan ciri kuat sebagai paguyuban para ulama yang memimpin pesantren. Tidak seperti Muhammadiyah yang porosnya adalah sistem organisasi, poros NU adalah personel ulama yang memiliki kekuatan spiritual, intelektual, karisma dan loyalitas para santri.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi