Sabar Itu Tak Ada Batasnya

Itulah kebanyakan manusia, memanjakan nafsu dan rela menjadi budaknya

Di sinilah problem mulai muncul. Keterikatan nafsu dengan hal-hal duniawi/bendawi menjadi sangat kuat. Kondisi ini disebut dalam agama dengan cinta dunia (hubbudunya). Seseorang menjadi sangat cinta kepada harta, kekuasaan, jabatan, barang-barang mewah, pujian, popularitas, seks, dan lain-lain. Atas dorongan nafsu, ia terus memikirkan dan berusaha keras meraih semua yang dicintainya itu, tak peduli jika melanggar aturan-aturan Allah.

Kondisi ruhani ini terjadi pada kebanyakan manusia. Mereka tunduk pada setiap kemauan nafsu. Sementara bagian lain ruhnya, yaitu qalbu dan akal, tak berdaya, dan turut pula dikendalikan sang nafsu. Ini karena selama hidupnya, tuntutan nafsu lebih dikedepankan dari pada tuntutan qalbu dan akal.

Seharian penuh mereka mengerjar uang dan karir, tapi hanya sedikit waktu untuk ibadah. Seharian penuh mereka memikirkan keluarga, pekerjaan dan hobi, tapi tak semenit pun mengingat Allah. Seharian penuh mereka belajar ilmu dan skill duniawi, tapi hanya sekian persen saja waktu untuk belajar agama. Itulah kebanyakan manusia, memanjakan nafsu dan rela menjadi budaknya.

Padahal Allah telah mengingatkan, “Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai ilah (tuhan). Allah membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan qalbunya, serta menutup pandangannya. Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (QS Al-Jatsiyah: 23).

Maka sabar adalah kemampuan kita mengekang/menahan setiap keinginan nafsu yang berlebihan dan melanggar aturan-aturan Allah. Nafsu selalu ingin marah saat tersinggung; membalas saat disakiti; mengejar saat menginginkan sesuatu; menghindar dari setiap kesulitan dan kerugian.


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi