Menempati level tertinggi ini, sabar tentu menyimpan segudang pahala dari Allah. “Dan Kami pasti akan menganugerahi orang-orang yang bersabar ganjaran yang terbaik dari apa yang telah mereka lakukan.” (QS. An-Nahl: 96).
Secara bahasa, sabar (Shabara) berarti ‘mengikat’ atau ‘mengekang’ sesuatu. Dalam hal ini, sabar berarti mengikat, mengekang atau menahan diri dari melakukan sesuatu. Nah, sabar menjadi berat karena yang ditahan/dikekang bukan sesuatu yang tampak mata, tapi sesuatu yang kasat mata/ghaib, dan berada di dalam diri kita sendiri. Entah seperti apa bentuknya dan di mana bersemayam, sesuatu itu-lah yang menggerakkan aliran darah, hembusan nafas dan seluruh bagian tubuh kita. Terkadang ia pula yang mengendalikan pikiran kita.
Kita menamakannya dengan ‘hawa nafsu’ (al Hawa). Ini adalah bagian dari kekuatan pada diri manusia, yang Allah anugerahkan sebagai “alat” untuk melangsungkan hidup di alam dunia. Ia adalah sumber munculnya perasaan, keinginan, amarah dan ambisi. Dari nafsu itu kita menginginkan sesuatu. Darinya kita merasakan nikmat/sakit. Darinya pula kita marah/dendam saat disakiti orang.
Sebagai penggerak seluruh aktifitas manusia, nafsu rawan menjadi pintu masuk setan/iblis untuk menggoda manusia agar ingkar pada Allah. Maka dari itu, Allah swt mengingatkan, “Dan aku tidak berlepas diri, karena sungguh (hawa) nafsu itu selalu menggiring pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS Yusuf: 53).
Sejatinya, nafsu adalah bagian dari ruh sehingga merupakan fitrah. Ketika ruh dimasukkan ke dalam tubuh, nafsu mulai bekerja dan tumbuh seiring pertumbuhan badan. Lama kemudian, ia menjadi kuat dan menjadi pengendali utama seluruh tubuh dan pikiran.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

