Teladankan Shalat Sejak Dini Pada Anak

Shalat merupakan tiang agama. Syekh Mutawalli As Sya’rawi menjelaskan bahwa rukun Islam yakni zakat, puasa dan haji bisa gugur dengan alasan tertentu. Sedangkan syahadat hanya diucapkan sekali seumur hidup.

Dengan demikian, rukun Islam yang tersisa adalah shalat. Rukun ini tidak akan pernah terlepas dari setiap muslim selamanya. Maka shalat itu tetap wajib (selama memenuhi syarat) dilaksanakan meski dalam keadaan perang sekalipun.

Sakit tidak menggugurkan kewajiban shalat. Shalat tetap harus dilaksanakan sesuai kemampuan dan kondisi. Dengan kalimat lain, tidak ada udzur yang bisa mengizinkan seseorang meninggalkan shalat.

Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak melaksanakan shalat seakan-akan merobohkan agama.

Maka Nabi Ibrahim as sejak dini memohon kepada Allah agar menjadikan dirinya senantiasa melaksanakan shalat di setiap waktunya dengan ikhlas dan khusyuk. Serta menjadikan anak cucu keturunannya meneladaninya dalam mendirikan shalat.

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Ibrahim: 40).

Demikian pentingnya shalat, hingga Nabi memerintahkan orang tua agar membiasakan shalat sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan.

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وفرقوا بينهم فى المضاجع

Perintahkan anakmu shalat ketika usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka (beri hukuman yang proporsional dan tidak menyakiti) saat usia sepuluh tahun (jika meninggalkan shalat), dan pisahkan ranjang di antara mereka. (HR. Abu Dawud).

Pembiasaan sejak dini ini penting, agar anak mengetahui syarat dan rukunnya serta merasa tenang dan nyaman dalam melaksanakan shalat nanti ketika dia sudah memasuki usia baligh.

Selain itu shalat merupakan amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti. Artinya kebahagiaan di akhirat juga bergantung pada penilaian shalat.

• إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَاةُ “. قَالَ : ” يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ، وَهُوَ أَعْلَمُ : انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا ؟ فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ : أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ. ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali akan dihisab kelak pada hari kiamat adalah sholatnya. “Rasulullah melanjutkan,” Allah Swt berfirman kepada para malaikat-Nya, sedangkan dia lebih mengetahui. “Lihatlah shalat hamba-Ku, sudahkah dia melaksanakannya dengan sempurna ataukah terdapat kekurangan?”

Bila ibadahnya telah sempurna maka tuliskanlah untuknya pahala yang sempurna pula, namun bila ada sedikit kekurangan darinya, maka Allah berfirman, “Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah” dan bila dia memiliki shalat sunnah maka Allah berfirman, “sempurnakanlah untuk hamba-Ku kekurangan pada shalat fardhunya dengan shalat sunnahnya”. Demikian semua ibadah akan menjalani proses yang serupa.“ (HR. Abu Dawud).

Itu sebabnya para ulama menganjurkan untuk banyak melaksanakan shalat-shalat sunnah. Karena bisa menambal kekurangan yang ada pada shalat fardhu baik itu kesunnahan, kekhusyukan, dzikir maupun doanya.

Rekomendasi