Rahasia Anak Shalih
Rabi’ah Al-Adawiyah adalah legenda perempuan shalihah dari generasi awal kaum Sufi
“Anakmu yang baru saja lahir itu adalah seorang ratu bagi kaum perempuan. Dia kelak akan menjadi pemberi syafaat bagi 70 ribu umatku di Hari Kiamat,” lanjut Nabi.
“Pergilah kepada Isa al-Zadan, Gubernur Basrah. Tulislah pada selembar kertas kalimat ini: ‘Setiap malam engkau bershalawat kepadaku 100 kali dan 400 kali pada Jum’at malam. Kemarin malam adalah Jum’at malam dan kau melupakanku. Sebagai tebusannya, berikan pada lelaki ini empat ratus dinar dari hartamu yang halal.”
Ketika bangun, ayah Rabi’ah bercucuran air mata. Dia pun bangkit dan menuliskan kalimat dari Nabi itu. Kemudian ia mengirimkan pesan itu kepada Gubernur melalui seorang pengawal Gubernur.
“Bagikan dua ribu dinar kepada fakir-miskin,” perintah Gubernur setelah membaca pesan itu, “sebagai ungkapan syukurku karena Nabi telah mengingatku. Dan berikan empat ratus dinar kepada bapak tua itu, dan katakan kepadanya, ‘Aku berharap Anda berkenan datang agar aku bisa menemui Anda. Namun aku rasa tidak sepantasnya orang seperti Anda datang menemuiku. Lebih pantas aku yang datang mengunjungi Anda dan menempelkan janggutku di ambang pintu rumah Anda. Bagaimanapun, aku mohon demi Allah, apapun yang sedang Anda butuhkan, katakan saja.”
Ayah Rabi’ah pun menerima uang emas itu dan membeli semua kebutuhannya.
Hikmah
Kisah ini memberikan pelajaran, bahwa seorang anak shalih lahir dari rahim orangtua yang shalih. Saat masih di alam ruh, manusia itu masih suci. Cahaya imannya bersinar terang. Kesuciannya itu akan tetap terjaga atau tidak tergantung pada bagaimana kedua orangtuanya menyambut kelahiran dan membesarkannya. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap manusia dilahirkan dalam fitrah (kemurnian). Kedua orangtuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.” (HR. Muttafaqun ‘alaîh).
Ibu-bapak sejatinya adalah sepasang manusia yang Allah tugaskan untuk menyambut kedatangan ruh-ruh manusia dari alam ruh ke alam dunia. Keduanya juga ditugaskan untuk merawat kesucian ruh-ruh manusia yang kelak berstatus anak-anaknya itu.
Seorang pelaut memerlukan kendaraan kapal untuk mengarungi samudera. Ruh memerlukan tubuh untuk berlayar di alam dunia. Keselamatan si pelaut pertama-tama ditentukan oleh kualitas kapal yang hendak digunakannya. Begitu juga ruh, kesuciannya dapat terjaga atau tidak tergantung pada kualitas jasad yang ditempatinya. Maka yang pertama harus dipersiapkan oleh ibu-bapak adalah tubuh yang baik bagi ruh anaknya.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

