Puasa di Kitab Sirrul Asrar, Rasaning Rasa
Sebuah judul kitab yang sangat menarik perhatian siapapun yang mendengarnya
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani QS berpendapat demikian bukannya tanpa dalil nash, salah satu dalilnya hadits yang Rasulullah SAW bersabda,”Banyak orang yang berpuasa hasilnya hanyalah lapar dan dahaga.” Juga ada ungkapan, “Banyak yang berpuasa, tapi berbuka. Banyak yang berbuka, tapi berpuasa.” Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan ini ialah orang yang perutnya tidak berpuasa, tapi ia menjaga anggota tubuhnya untuk berbuat jahat, terlarang dan menyakiti orang lain.
Begitu pula hadits yang Rasulullah SAW bersabda, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan. Pertama, ketika berbuka dan kedua ketika melihat Allah.” Syaikh menyatakan bahwa pengertian hadits ini menurut syariat adalah kebahagiaan yang pertama ketika berbuka dengan memakan makanan di waktu maghrib. Kedua, ketika melihat bulan di malam Idul Fithri yang menandakan selesainya pelaksanaan puasa Ramadhan. Sedangkan pengertian menurut tarekat ialah kebahagiaan yang pertama ketika masuk surga menikmati kenikmatan surga dan kedua rukyat atau melihat Allah SWT pada hari kiamat dengan rasa secara nyata.
Maka, menurut Syaikh, puasa tarekat atau hakekat adalah menjaga qalbu dari selain Allah SWT dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah SWT. Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman: “Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” Sirr, rahasia itu dari nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah SWT.
Tidak ada yang dicintai, diingini dan dicari selain Allah SWT di dunia maupun di akhirat. Bila qalbu terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batalah puasa tarekatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah SWT dan menemui-Nya di dunia dan akhirat, seperti bunyi firman Allah SWT: “Puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”
Itu baru pasal tentang puasa. Ada 23 pasal lagi yang isinya dapat mencerahkan dan melengkapi pengetahuan dan pemahaman kita yang mungkin selama berpuasa selama ini terlalu terpaku pada prosedur formal dalam beragama (syariat, fiqih) dan mengabaikan aspek-aspek esoterik, ruhaniyah dalam beragama (ihsan, marifat) yang jelas ditekankan melalui hadits-hadits di atas.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

