Perlunya Dukungan Ulama dan Umara Untuk Kedaulatan Teknologi
Karena ulama sebagai pemimpin umat, agent of social change dan public figure
Sebagai masyarakat relijius, nasehat, fatwa keagamaan hingga motivasi dan doktrin teologis yang disampaikan ulama ikut mewarnai masyarakat Indonesia. Karena ulama sebagai pemimpin umat, agent of social change dan public figure.
Terlebih makna ulama mengalami reduksi. Sehingga ulama saat ini hanya dikesankan mereka yang menguasai ilmu-ilmu studi keislaman. Jika boleh melihat masa lampau, sulit akan ditemui tokoh semisal Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Kindi, Jabir Ibnu Hayyan, Al Khawarizmi, ar Razi, Al Idrisi, Al Farabi dan lain sebagainya.
Lihat saja misalnya pada tahun 2018, berdasarkan peringkat PISA (Programme for International Student Assessment), untuk nilai sains Indonesia menempati peringkat 70 dari 78 negara.
Pisa adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa di tingkat global.
Tetapi itu bukan jadi satu-satunya alasan. Jika dilihat lebih lanjut, pada tahun 2018 dana riset dan pengembangan di Indonesia memang hanya sekitar Rp 33 triliun atau 0,23 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Berbeda dengan Amerika Serikat yang menghabiskan sekitar Rp 8.324 triliun atau 2,83 persen dari PDB, Jepang Rp 2.451 triliun atau 3,28 persen dari PDB, Korea Selatan Rp 1.409 triliun atau 4,53 persen dari PDB, Singapura Rp 146 triliun atau 1,92 persen dari PDB dan Malaysia Rp 132 triliun atau 1,3 persen dari PDB. Sebagaimana dikutip narasinewsroom dari UIS Unesco (Maret 2021): Gerd & presentasi Gerd terhadap PDB.
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______

