Peran Sufi pada Kekaisaran Ottoman (bagian 2)

Ulama sufi berperan besar dalam dakwah, budaya, dan kebijakan pada masa kejayaan Ottoman

Tasawuf Menjamur

Perkembangan tasawuf memiliki tempat khusus dalam peradaban Islam di masa itu. Kajian-kajian tasawuf dapat ditemukan dimana-mana, tarekat berkembang bak jamur di musim hujan, karya-karya sufistik menjadi bacaan masyarakat umum mengalahkan karya dalam bidang fiqh dan ilmu kalam.

“Hasilnya, semua segmen dapat mengakses mistisisme dalam Islam itu, dari birokrat, intelektual, tentara, pedagang sampai dengan petani,” jelasnya.

Pria asal Pemalang itu menyatakan, keberadaan kelompok sufi dalam fase berdirnya Ottoman tidak hanya berfungsi sebagai gerakan keagamaan saja. Lebih dari itu, pembangunan struktur sosial dan budaya dalam memperkuat fondasi negara juga menjadi konsentrasi ulama sufi pada saat itu.

Baca juga: Syekh Abdul Qadir al Jailani Gemar Memberi Makan

Pada level kerajaan, ulama sufi juga memiliki posisi penting dalam pengambilan kebijakan-kebijakan politik oleh sultan. Sultan-sultan Ottoman memberikan posisi penting kepada tokoh agama. Dalam bidang hukum, mereka menunjuk ulama-ulama fikih sebagai qadi (hakim) dan ditempatkan di wilayah-wilayah kekuasaanya. Sementara dalam bidang kebijakan politik mereka memilih seorang ulama sufi sebagai penasehat.

Sebagai bentuk terima kasih dari pihak kerajaan, mereka mendukung penuh perkembangan tarekat dan gerakannya. Dukungan ini diberikan dengan bentuk pemberian wakaf tanah dan pembukaan daerah-daerah baru yang tidak jarang diberi nama sesuai dengan nama sufi yang tinggal di tempat itu.

Selanjutnya ulama-ulama ini mendirikan zawiyah, hanaqah dan tekke untuk memberikan pendidikan rohani kepada masyarakat di sekitarnya. []


Sekarang traktir Tim TQNNEWS gak perlu ribet, sat-set langsung sampe!
Terima kasih ya sudah support kami. Salam cinta penuh kehangatan :)
https://sociabuzz.com/tqnn/tribe
______
Rekomendasi